Terjebak di London (4-selesai)

LONDON: Akhirnya, tiket untuk pulang sudah di tangan. Selama empat hari sejak Minggu (19/12), kesempatan inilah yang ditunggu-tunggu. Hilang sudah penat dan lelah, baik fisik maupun psikis, setelah dapat tiket London-Jakarta. Meski begitu, tiket itu
Bambang Supriyanto
Bambang Supriyanto - Bisnis.com 24 Desember 2010  |  11:51 WIB

LONDON: Akhirnya, tiket untuk pulang sudah di tangan. Selama empat hari sejak Minggu (19/12), kesempatan inilah yang ditunggu-tunggu. Hilang sudah penat dan lelah, baik fisik maupun psikis, setelah dapat tiket London-Jakarta. Meski begitu, tiket itu tidak diperoleh dengan mudah. Bahkan, sempat kembali membuat frustasi.

Rabu malam telepon di kamar penulis berbunyi. Suara di seberang, VP Corporate Communications Garuda Indonesia Pujobroto, berteriak gembira. Dia mengabarkan bahwa kami sudah dapat booking ticket KLM ke Amsterdam besok (Kamis) pukul 10.30 flight KL 1008.Tiket ke Amsterdam itu diperoleh dengan bantuan dari Paul Van Oortmerssen, General Manager Alliance. Menurut Pujobroto, bantuan dari Paul itu didapatkan setelah dirinya menceritakan kondisi yang terjadi di London kepada VP Network Management Garuda Tenten yang dibantu stafnya, Nana."Pak Tenten dan staf memiliki kenalan di beberapa maskapai termasuk Pak Paul di network management KLM. Saya sudah dapat email dari Paul mengenai konfirmasi penerbangan dengan KL 1008 besok pukul 10.30," tuturnya.Kamis pukul 06.00 waktu London, atau 14.00 waktu Jakarta, rombongan yang terdiri dari Pujobroto, saya, fotografer Kompas Totok Wijayanto, dan staf lokal Garuda Harold Tobing kembali meluncur ke Heathrow. Kami pun kembali membawa tas dan luggage, untuk yang keempat kali, dan langsung check out dari hotel Regency London-The Churchill.Saya merasakan suasana ceria di dalam kendaraan Mercedes SUV dengan bernomor mobil bernomor seri S444TOB. Keceriaan ini seiring dengan hilangnya salju dari pemandangan dari jendela mobil. Perjalanan ke Heathrow relatif lancar karena masih pagi. "Saya sampai hafal jalan ke bandara. Tinggal lurus, cari McDonald di ujung jalan lalu ambil jalan yang belok kiri. Terus lurus saja sampai ke Heathrow," tutur saya, disambut ketawa oleh Harold, yang sudah puluhan tahun di London.Sesampai di Heathrow, kami langsung ke konter KLM untuk mendapatkan boarding pass. Namun, petugas memperingatkan ada masalah tiket untuk yang ke Jakarta. Memang, tiket awal yang kami pegang adalah connecting flight London-Amsterdam-Jakarta. Dengan menggunakan Garuda untuk Amsterdam-Jakarta. Masalah pun muncul. Ketika rombongan sudah di depan konter check in, petugas KLM menanyakan tiket Amsterdam-Jakarta yang sudah diperbaharui. Pasalnya, lembaran kertas tiket yang dipegang Pujobroto masih yang lama, tertanggal 19 Desember. Padahal, GM Garuda Amsterdam Iswandi Said sudah memberikan kode booking penerbangan Amsterdam-Jakarta. Artinya, seat untuk penerbangan itu sebenarnya sudah pasti. Pujobroto mencoba menjelaskan kepada petugas berwajah India itu mengenai kode booking tersebut. Namun, tetap saja dia meminta kertas print booking ticket yang baru dari Garuda."Sorry you have to check again to your airline. The problem is not at our, but in Garuda ticket. It's different time with connecting ticket. Sorry, next please," katanya sambil memanggil antrean yang lain."Zaman sudah online begini masih minta bukti kertas. Saya tadi sudah mau gebrak saja," kata Harold frustasi.Pujobroto mencoba menghubungi pejabat Garuda Amsterdam untuk mengirim email bukti tiket ke Jakarta. Kita pun mencoba untuk mencetak tiket itu ke tempat penyewaan Internet dan print di bandara. Sambil menunggu kiriman email, kami kembali mengantre karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 09.15. Alhasil, tetap saja petugas itu tidak dapat mengeluarkan boarding pass kami bertiga. Meski sudah menunjukkan email dari Amsterdam, petugas itu tidak bisa membantu. Kami pun pesimistis. Apalagi kiriman email tiket dari Iswandi Said menulis nama kami alah. Tiket Pujobroto ditulis Pudjobroto Mr. Padahal, di paspor nama lengkap yang tertera Pujobroto bin Daim. Tiket saya, tertulis Nasut, MYHMr. Beda jauh dari paspor Mohamad Yunan Hilmi Nasut. "Masalah basic di airline saja salah. Biasanya kita diminta nama di tiket itu sesuai yang tertulis di paspor. Nama-nama itu sudah dikirim beberapa hari sebelumnya. Masa di singkat-singkat begitu," ttutur saya yang diiyakan oleh rombongan.Waktu check in untuk penerbangan KL 1008 pun akhirnya habis. Berarti, kami sudah pasti tidak bisa berangkat hari ini. Lemas dan frustasi. Tidak mungkin dapat tiket hari ini. Semuanya penuh. Padahal, kami sudah check out dari hotel. Kalau kembali ke London berarti harus mencari penginapan lagi. Meski begitu, Pujobroto dan Harold tidak patah semangat. Mereka berdua kembali mengantre ke konter Skyteam untuk menanyakan kepastian tiket kami kepada KLM.Bantuan tak terduga

Selama pengurusan di konter Skyteam itu, di bagian lain bandara Heathrow, tepatnya di Terminal 3, Alosyus Priadi, marketing officer BNI, yang juga sering membantu kami, tengah mengantre check in untuk penerbangan ke Jakarta. Hanya saja, dia dan isteri terbang dengan Saudi Airline, London-Riyadh-Jakarta.Perjalanan pulang kampung itu sebenarnya sudah lama direncanakan. Priadi juga sebelumnya bercerita bahwa dia akan ke Jakarta bersama isteri. Rupanya, selagi mengantre, Priadi berkeliling menanyakan tiket penerbangan London-Jakarta. Dan, melalui kontak dengan Harold, ternyata ada penerbangan Singapore Airline (SQ) hari ini pukul 17.15.Harold pun akhirnya mengirim nama kami bertiga, tentu yang sesuai dengan paspor. Semua kemungkinan kami coba, yang penting bisa keluar dari negeri Margareth Thatcher ini.Sementara di sisi lain, petugas KLM yang didatangi Pujobroto bisa membantu memberikan seat ke Amsterdam, asalkan ada print out tiket yang Amsterdam- Jakarta. "Kita diminta untuk mem-print tiket yang dikirim dari Amsterdam via email. Memang sudah diperbaiki nama-namanya. Namun, penerbangannya terpisah. Satu seat untuk jam 15.00 dan dua tiket untuk yang agak malam. Kita coba saja," tutur Pujobroto.Kami pun bagi tugas. Totok pergi ke tempat printer dan Internet, Harold bergerak ke Terminal 3 untuk memastikan tiket SQ, penulis standby menjaga koper, dan Pujobroto memastikan seat di KLM. Sambil menunggu hasil print tiket, yang ternyata emailnya tidak bisa dibuka, kabar baik pun datang dari Priadi. SQ ada penerbangan ke Jakarta pukul 17.15. Pujobroto pun memutuskan untuk segera membooking tiket itu dengan pertimbangan dari pada KLM belum ada kejelasan, lebih baik mencoba yang sudah pasti.Akhirnya, kami bertiga pun segera meluncur ke Terminal 3 menumpang kereta bawah tanah Heathrow Express. Sesampai di TKP yang tidak tidak jauh dari konter SQ, terlihat Harold sudah menunggu dengan penuh senyum didampingi oleh dua anak pasangan Priadi dan Chandra, Shelly dan Luke."Kita harus berterima kasih sama Shelly dan Luke. Mereka yang menunggu di konter SQ untuk membantu memastikan tiket ke Jakarta ini," kata Harold.Akhirnya, penantian ini berakhir. Saya pun segera mengirim SMS ke isteri yang tiada henti-hentinya berdoa. Sampai bertemu di Jakarta sayang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top