SCOT A MARCIEL: Indonesia perlu benahi banyak regulasi bisnis

 Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengunjungi Indonesia pada 9-10 November, di tengah latar situasi politik dan ekonomi AS yang bergerak sangat dinamis dalam 2 bulan terakhir, dalam konteks global, regional, maupun bilateral.
Master Sihotang | 23 Desember 2010 20:59 WIB

 Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengunjungi Indonesia pada 9-10 November, di tengah latar situasi politik dan ekonomi AS yang bergerak sangat dinamis dalam 2 bulan terakhir, dalam konteks global, regional, maupun bilateral.

 

Bagaimana implikasinya terhadap kebijakan luar negeri dan ekonomi Obama di masa depan? Apa pula yang bisa diekspektasikan dari pembentukan Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia yang diluncurkan di sela-sela kunjungannya di Tanah Air?

 

Untuk mengetahuinya lebih jauh, Bisnis mewawancarai Scot A. Marciel, Duta Besar AS untuk Indonesia yang resmi dilantik sejak 21 September lalu. Berikut petikan dialognya:

 

Apa prioritas kebijakan luar negeri pemerintah AS usai penarikan pasukan tempur di Irak akhir Agustus lalu?

 

Obama telah menyatakan bahwa salah satu kunci kebijakan luar negeri adalah memperkuat negara kami dan mengembangkan ekonomi kami agar bisa tumbuh kembali dengan cepat. Yang menjadi bagian sangat penting dari hal tersebut, Presiden banyak fokus pada upaya membuat dunia aman dari senjata nuklir. Dia memulai pidatonya di Prague pada konferensi keamanan nuklir yang telah digelar sebelumnya tahun ini, memulai treaty dengan Rusia, dan upaya mencegah Iran dan Korea Utara memiliki senjata nuklir. Jadi, mencegah senjata nuklir itu satu prioritas yang pasti.

 

Obama dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton juga telah menekankan pentingnya pengembangan ekonomi di dunia dan meningkatkan pembangunan. Itu dua pilar utama dari kebijakan luar negeri. Di luar itu, ada upaya intensif yang telah berlangsung yaitu proses perdamaian Timur Tengah. Hillary Clinton dan Utusan Khusus untuk Timur Tengah George Mitchell berupaya nonstop mencari solusi di sana.

 

Selain itu, yang pasti, keterlibatan ekstensif AS dengan Asia. Fokus besar bagi pemerintah adalah terus memperkuat hubungan kami dengan Asia secara keseluruhan, termasuk memperbaiki hubungan dengan China, mempertahankan hubungan aliansi yang kuat, dan juga merangkul Asia Tenggara, Asean, dan tentunya Indonesia.

 

Pemerintah Anda tertarik bergabung dalam keanggotaan East Asia Summit (EAS). Apa latar belakang dan manfaat yang bisa didapat AS dan kawasan?

 

Kita adalah kekuatan Pasifik. Kami juga selalu memiliki big presence di Asia, selalu sangat aktif di Asia, dan big player di APEC, dan sangat aktif di forum Asean. Seiring perkembangan arsitektur regional, penting kalau kita menjadi bagian di dalamnya. Jadi, ini merupakan alat yang wajar dan keputusan tepat untuk berpartisipasi di East Asia Summit yang notebene sedang berkembang seperti forum penting lainnya untuk mendiskusikan isu kawasan. Jadi artinya kami akan bersuara dengan pemain besar di Asia membicarakan isu-isu besar yang dihadapi Asia, jadi saya rasa itu bagus untuk kami dan juga kawasan ini.

 

Tidak khawatir tumpang tindih dengan kerjasama APEC?

 

Iya memang banyak overlap [tumpang tindih], tapi East Asia Summit beda. APEC [Asia Pacific Economic Cooperation] mencakup sejumlah negara di Amerika Selatan yang bukan masuk keanggotaan EAS. Dan EAS mencakup sejumlah anggota seperti India yang bukan [anggota] APEC. Agendanya juga agak beda. Memang ada tumpang tindih, tapi APEC itu kebanyakan agenda ekonomi, sedangkan EAS lebih luas.

 

Peringkat daya saing AS versi World Economic Forum (WEF) 2010 turun dari posisi kedua menjadi keempat. Bagaimana cara pemerintah Anda memetakan strategi untuk memperbaikinya?

 

Saya pikir, AS, Indonesia dan negara-negara lain menghadapi tantangan yang sama. Ekonomi sekarang kian mengglobal. Anda harus berjuang keras untuk lebih kompetitif, memperbaiki pendidikan, punya infrastruktur yang bagus, menciptakan iklim bisnis yang paling baik sehingga perusahaan punya peluang untuk kompetitif. Ini bergantung pada perusahaan untuk bisa seefisien dan sekompetitif mungkin. Jadi, kami fokus pada pendidikan, infrastruktur dan semua iklim bisnis di AS.

 

Tapi WEF menyarankan pemerintah AS untuk mengatasi masalah fiskal negara kalau mau memperbaiki daya saing. Bagaimana pendapat Anda?

 

Yang pasti, kita memang harus mengatasi masalah anggaran. Saya tidak yakin apakah ini [akan memperbaiki] masalah daya saing dengan cepat, tapi pasti akan efektif bagi perusahaan kami. Pertanyaan saya buat Indonesia, bagaimana agar RI bisa lebih kompetitif? Ekonomi Indonesia tumbuh dengan level yang bagus. Karena saya baru menjabat sebagai Dubes di sini, kalau saya dengar dari orang Indonesia dan para pebisnis, infrastruktur harus diperbaiki, harus lebih ada predictability dalam iklim bisnis, dan regulasi dikurangi. Kurangi kesulitan untuk mendapat persetujuan untuk melakukan sesuatu [bisnis]. Selain itu, perlu ada perkembangan lebih dalam upaya memberantas korupsi.

 

Konggres AS meloloskan RUU tentang Mata Uang yang memberi ruang bagi perusahaan Amerika untuk melakukan petisi bea impor lebih tinggi terhadap eksportir negara lain yang mata uangnya lemah, khususnya China. Bagaimana posisi pemerintah terhadap RUU tersebut?

 

Presiden dan Menteri Keuangan Timothy F. Geithner serta yang lainnya terus berbicara dengan China tentang kurs. Saya sebagai Dubes kurang tepat berbicara mengenai apakah nilai yuan tepat atau tidak. Lebih baik mengacu pada Presiden dan Kementerian Keuangan.

 

Terkait kunjungan Obama ke Indonesia. Apakah situasi perpolitikan domestik yang memanas menjelang pemilu Kongres dan tekanan dari oposisi, partai Republik, terhadap kebijakan ekonomi Obama berpotensi menunda kembali kunjungannya?

 

Seperti telah diucapkan Obama di New York [di sela-sela Sidang Umum Dewan PBB], dia berencana datang ke Indonesia setelah kunjungannya ke India dan sebelum ke Korsel pada November ini.

 

Sebagai Presiden, dia sering menegaskan bahwa dia perlu melakukan kebijakan luar negeri dan urusan domestik. Dia sudah berkomitmen untuk berkunjung ke Asia dan itu sangat jelas. Komitmen tidak akan berubah karena isu pemilu.

 

Bidang apa saja yang akan dicakup dalam Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia?

 

Kedua pemimpin, Obama dan Yudhoyono, melihat keuntungan bila kedua negara berkerjasama pada isu-isu yang lebih luas. Kami punya banyak kepentingan sama. Idenya adalah membangun hubungan baru berdasarkan pada rasa hormat dan kesetaraan. Kami identifikasikan sejumlah bidang di mana kita bisa bekerjasama, kadang bilateral, regional atau isu global.

 

Jadi kita sudah bekerjasama sangat bagus misalnya di G-20 di mana Indonesia telah menjadi anggota sangat penting. Kemudian climate change, secara bilateral, bagaimana kami mendukung upaya Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca, karena RI menetapkan target yang ambisius. Kita mau promosi kerjasama pendidikan lebih banyak, lebih banyak pelajar Indonesia ke AS dan sebaliknya juga. Bisnis juga sangat penting. Perdagangan kami harus lebih besar dari sekarang. Dan kalau kita bisa menemukan cara meningkatkan perdagangan dan investasi, ini bisa menciptakan banyak lapangan kerja di kedua negara, dan membuat kemakmuran lebih besar. Yang lainnya, promosi demokrasi di kawasan. Indonesia punya Bali Democracy Forum yang sangat kami hargai dan kami dukung. Lalu, kerjasama iptek, dan bidang kesehatan. Kami tidak membatasi area kerjasama, kami mencoba bagaimana pemerintah, bisnis, kelompok rakyat sipil membiasakan kerjasama lebih jauh di bidang yang kepentingannya sama.

 

Sejauh mana Kemitraan Komprehensif dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat?

 

Sebenarnya manfaat sudah mulai dirasakan. Kita punya unit Peace Corps sekarang. Anak muda Amerika di sini mengajar Bahasa Inggris di sekolah lokal di Jawa Timur. Kami menandatangani kesepakatan untuk mendukung dan memfasilitasi investasi Amerika di sini. Kami tandatangani perjanjian bidang iptek untuk membuat kerjasama iptek lebih mudah.

 

Tapi, ketika Anda lihat Kemitraan Komprehensif, kemitraan nyata antara kedua negara, menurut saya, tidak hanya seberapa banyak perjanjian yang ditandatangani, tapi bagaimana negara berkerja secara bersama. Kami, misalnya, punya hubungan tradisional yang lama dengan Inggris di mana pejabat Inggris dan Amerika saling konsultasi secara rutin. Tukar pikiran. Jadi kami mau mengarah ke jenis hubungan seperti itu. Mungkin tidak akan sedekat hubungan AS-Inggris secara historis, tapi kami ingin menciptakan hubungan di mana pejabat Amerika dan Indonesia, pebisnis, membiasakan saling kerjasama lebih sering. Lebih sering komunikasi, sering konsultasi, dan bekerjasama pada bidang yang bisa dikerjasamakan.

 

Apakah akan efektif menghilangkan mispersepsi di kalangan masyarakat?

 

Ada ruang di kedua pihak untuk memiliki pengertian yang lebih baik. Sejumlah warga Indonesia punya mispersepsi terhadap Amerika. Orang Amerika juga tidak begitu mengenal Indonesia. Jadi salah satu tujuan kami adalah menjamin bahwa kami melakukan segala upaya agar Amerika memahami Indonesia dengan baik. Indonesia juga memahami AS dengan baik. Pengertian yang lebih besar akan menjernihkan sejumlah persepsi atau mispersepsi. Contohnya, berdasarkan survey di sini [Indonesia], banyak orang Indonesia berpikir AS punya pengaruh besar bagi ekonomi Indonesia. Itu tidak benar. Sebenarnya kami punya perdagangan dan investasi yang sangat kecil dengan Indonesia. Tapi kita harus meningkatkannya dan akan bagus bagi kedua negara.

 

Jangan berpikir Kemitraan Komprehensif hanya sebagai perjanjian di atas kertas. Ini komitmen dari kedua pihak, yang dimulai dari level Presiden untuk bekerjasama lebih dekat. Dalam kurun 1,5 tahun terakhir, Anda lihat ada lebih banyak interaksi. Banyak kunjungan tingkat tinggi bolak balik untuk mendiskusikan hal kongkret, bukan hanya sekedar kunjungan. Itu artinya ada komitmen tingkat tinggi untuk kerjasama lebih banyak dan di berbagai bidang. Dan saya pikir itu akan berlanjut di masa depan. Dan kita akan melihat hasilnya. Akan ada lebih banyak pertukaran pelajar. Lebih banyak bisnis dikerjakan, iptek, dan kesehatan.

 

Warga Indonesia masih ada yang menghadapi kesulitan mendapatkan visa AS. Apakah urusan keimigrasian/visa akan dipermudah?

 

Saya dengar banyak [kasus visa] pelajar. Orang bilang pelajar mengalami kesulitan mendapatkan visa pelajar. Tapi faktanya, mayoritas pelajar Indonesia yang melamar aplikasi visa mendapat visanya. Saya rasa ada persoalan persepsi di sini.

 

Ada rencana membentuk Free Trade Agreement (FTA) dengan Indonesia?

 

Kami masih jauh dari FTA. Tapi pejabat dagang kami mengadakan pertemuan di Bali untuk mencoba mencari cara bagaimana mengurangi hambatan dagang kedua negara. Kami tidak akan membatasi diri terkait apa yang akan kami lakukan di masa depan. Tapi saat ini, tidak ada rencana untuk segera menegosiasikan FTA. Banyak hambatan [dagang] yang harus kita kurangi.

 

Untuk membentuk FTA dengan negara Anda, perlu membuat Bilateral Investment Treaty (BIT) terlebih dahulu. Sudah sampai mana pembicaraan kedua pihak terkait BIT?

 

BIT bisa menjadi hal yang positif. Kami telah melakukan diskusi awal mengenai apakah kita akan membentuk itu. AS juga berupaya secara aktif dalam kemitraan transPacific, FTA multilateral dengan sejumlah negara tetangga. Jadi, banyak yang tengah berlangsung. Akan tetapi, fokus saat ini adalah berupaya mengidentifikasi hambatan dagang yang spesifik dan apakah kita bisa menguranginya. Harus ada dagang yang lebih kita lakukan, neraca dagang AS-Indonesia hanya US$22 miliar dan harus lebih besar dari itu.

 

Apakah lambatnya pertumbuhan ekonomi di negara Anda akan memengaruhi investasi AS di Indonesia?

 

Saya tidak yakin. Faktor utama yang akan menentukan minat bisnis AS di Indonesia adalah iklim bisnis di sini. Indonesia punya pertumbuhan ekonomi yang bagus dan pasar yang besar. Tapi banyak perusahaan Amerika berpikir iklim bisnis di sini agak sulit. Banyak regulasi dan batasan yang membuat sedikit sulit untuk berbisnis di sini. Jadi saya pikir, mereka paling utama melihat apakah Indonesia terus mengimplementasikan reformasi untuk memperbaiki iklim bisnis. Bukan hanya untuk perusahaan AS, tetapi juga untuk perusahaan Indonesia. Mereka butuh predictability, sedikit regulasi, dan iklim bisnis yang terbuka dan kompetitif.

 

Sudah ada langkah positif dan saya pikir perusahaan Amerika tengah melihat apakah upaya memerangi korupsi terus berlanjut, karena itu [korupsi] hambatan besar juga bagi bisnis. Richard Branson dari Virgin Group di Jakarta mengingatkan hal yang sama. Perusahaan besar tidak mau investasi di tempat yang memiliki persoalan korupsi yang akut.

 

Ada komitmen baru dari perusahaan-perusahaan AS untuk meningkatkan investasi di Tanah Air? Sektor apa saja yang paling menarik?

 

Itu bergantung pada perusahaan AS. Perusahaan selalu melihat Indonesia. Belakangan ini banyak minat terhadap Indonesia. Saya rasa ada peluang bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi dan meningkatkan pertumbuhan ekonominya dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja serta mengurangi kemiskinan.

 

Banyak sektor [yang diminati], beragam. Saya tidak tahu persisnya, tetapi pastinya orang akan lihat bahwa seiring upaya Indonesia mengatasi hambatan infrastruktur, akan ada peluang bagi perusahaan asing untuk berpartisipasi di sektor itu. Kemudian, sektor energi tradisional dan energi terbarukan, transportasi, kesehatan, dan jasa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top