Asing kian agresif okupansi lahan industri

Heri Faisal | 23 Desember 2010 09:48 WIB

JAKARTA: Sepanjang tahun ini, investor asing (PMA) sangat agresif meningkatkan okupansi dengan menambah lahan industri di kawasan DKI dan Jawa Barat seiring dengan menggeliatnya sektor manufaktur pascakrisis keuangan global.

Analisis yang dirilis Cushman & Wakefield Indonesia (CWI) menyatakan dukungan situasi politik yang relatif stabil serta kondisi perekonomian yang positif pada 2010 juga ikut mendorong pelaku industri asing terutama dari Jepang kembali aktif di pasar lahan industri.

Pelaku industri asing ini diperkirakan menjadi sumber permintaan utama [lahan industri] dalam jangka waktu pendek hingga menengah. Tahun ini merupakan tahun yang baik bagi kawasan industri. Tren ini akan terus menguat, kata Associate Director CWI Bidang Kawasan Industri Wira Agus dalam keterangan pers yang diterima bisnis.com, hari ini.

Total okupansi lahan baru sejak 2005 2010 diperkirakan mencapai lebih dari 700 hektare, yang sebagian besar berasal dari kawasan industri eksisting di Bekasi dan Karawang. Daerah-daerah ini masih menjadi kawasan industri yang paling diminati oleh pelaku industri terutama asing, terangnya.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada 2010 tidak ada sektor industri tertentu yang mendominasi permintaan pasar, tapi terdapat beberapa sektor industri yang cukup aktif meningkatkan kinerja produksi dan investasi seperti sektor otomotif dan baja.

Dia menerangkan peningkatan permintaan dan penguatan rupiah terhadap dolar AS mendorong penaikan harga lahan industri sepanjang 2010 sekitar 10% (rupiah) dan 15% (dolar AS) menjadi sekitar Rp700.000 per m2 dan US$80 per m2.

Wira menerangkan peningkatan permintaan lahan industri menyebabkan beberapa kawasan industri tak siap menyediakan pasokan baru. Pada sisi lain, keterbatasan pasokan dengan kualitas baik membuat investor mulai kesulitan.

Beberapa faktor itu, terangnya, membuat harga tanah diperkirakan terus membaik pada 2011. Walaupun pasar diperkirakan tetap bergairah pada 2011, tingkat permintaan pasar belum mampu menyamai kondisi sebelum krisis moneter 1997. Namun, kondisi ini akan berlanjut ke arah positif, katanya. (gak)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup