Pembentukan JIC pada kuartal I 2011

JAKARTA: PT Jamsostek akan meminta persetujuan pemegang saham terkait pembentukan anak usaha patungan, Jamsostek Investment Corporation (JIC) pada kuartal I/2011. Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan hingga saat ini pihaknya masih melakukan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 23 Desember 2010  |  08:58 WIB

JAKARTA: PT Jamsostek akan meminta persetujuan pemegang saham terkait pembentukan anak usaha patungan, Jamsostek Investment Corporation (JIC) pada kuartal I/2011. Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan hingga saat ini pihaknya masih melakukan kajian terkait pembentukan perusahaan patungan Jamsostek dengan The Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD). Perusahaan ini nantinya akan berfungsi sebagai perusahaan investasi.

Saat ini masih kajian. Kami akan meminta persetujuan secara resmi kepada pemegang saham, mungkin pada kuartal I/2011, ujarnya hari ini.

Hotbonar juga menargetkan perusahaan patungan itu dapat rampung pada kuartal I/2011, setelah sebelumnya mengalami kemunduran akibat harus mencari ulang konsultan pembentukan anak usaha itu.

Berdasarkan catatan Bisnis, terkait dengan rencana pembentukan JIC, perseroan menjajaki untuk mengakuisisi PT Reasuransi Internasional Indonesia (ReIndo).

ReIndo akan dilepas ke pasar melalui penawaran publik perdana (initial public offering/ IPO) setelah Jamsostek masuk menguasai perusahaan asuransi itu selama 3 hingga 4 tahun.

Terkait rencana perseroan untuk membeli saham PT Bank Bukopin Tbk, Hotbonar menjelaskan perseroan diimbau oleh Kementerian BUMN untuk mengkaji kembali laporan keuangan teraudit (audited report) Bank Bukopin pada Desember tahun ini.

Sebenarnya kalau ditanya tentang ini, jawaban kami masih sama seperti dulu. Tapi kami disuruh mengkaji ulang rencana itu, kami akan mengkaji laporan keuangan paling akhir yakni audit report Desember 2010, yang pertama kan kami melihat dari laporan Maret 2010, ujarnya hari ini.

Semula. Jamsostek berencana mengambil alih sebanyak 30% saham Bank Bukopin. Namun, karena ada keinginan serupa dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang ingin mengakuisisi saham Bukopin bahkan dalam jumlah yang lebih besar yakni minimal 51% saham, Menteri BUMN Mustafa Abubakar akhirnya condong memilih bank pelat merah tersbut.Namun, sikap tersebut melunak setelah manajemen Bank Bukopin mengisyaratkan penolakannya.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top