Peluang keluar dari sistem mata uang tunggal relatif kecil

LONDON: Meski dilanda krisis, peluang suatu negara anggota kawasan euro untuk keluar dari sistem mata uang tunggal pada 2011 diperkirakan relatif kecil.
Yanto Rachmat Iskandar | 23 Desember 2010 10:13 WIB

LONDON: Meski dilanda krisis, peluang suatu negara anggota kawasan euro untuk keluar dari sistem mata uang tunggal pada 2011 diperkirakan relatif kecil.

Para pemimpin Uni Eropa diyakini akan memakai segala cara untuk mencegah perpecahan di zona euro. IHS Global Insight, perusahaan penelitian ekonomi terbesar di dunia, menyebutkan peluang suatu negara untuk meninggalkan zona euro pada 2011 sekitar 7%, sedangkan kalau dalam 5 tahun mendatang peluangnya 20%.

Peluang terjadi perpecahan yang lebih ekstirm sebelum 2015 adalah 5%, kata Howard Archer dan Timo Klein, dua ekonom IHS, dalam laporan yang dikirim ke klien melalui surat elektronik, hari ini.

Skenario paling mungkin, menurut mereka, adalah seluruh 16 anggota kawasan euro akan tetap utuh karena ada keinginan kuat dari para pemimpin UE untuk menjaga aliansi. Kalau perpecahan terjadi, akan memecah integrasi politik dan ekonomi Eropa yang telah terbentuk lebih dari 1 dekade dan ini sangat merusak pasar bersama.

Mempertimbangkan risiko itu, [pemimpin] Eropa akan mengerahkan segala upaya politik yang besar dan sumber daya untuk mencegah perpecahan. Namun, krisis keuangan di sejumlah anggota saat ini memang tidak di luar dugaan. Upaya internal untuk menstabilkan dan memulihkan daya saing mungkin terlalu pahit untuk ditanggung.

Di antara ekonomi yang paling berisiko, mereka menyebut Yunani dan Irlandia, kemudian Portugal. Spanyol dianggap sebagai negara penghubung yang penting. Dalam konteks ini, jika ongkos surat utang pemerintah Spanyol melonjak dan gagal dikendalikan, akan menjalar ke Italia dan Belgia, dan akhirnya mendorong euro ke zona bahaya.

Seperti diketahui, dua anggota kawasan ini telah terjerembab krisis yaitu Yunani dan Irlandia, setelah kekhawatiran mengenai kesinambungan pembiayaan defisit anggaran mendorong naik imbal hasil, dan akhirnya memaksa pemerintahnya meminta paket bail-out dari UE dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Dari Washington, pemerintah Polandia diketahui mengganti pinjaman siaga dari IMF dengan nilai yang lebih besar dan program yang lebih lama.

Sebelumnya pada Juli, Polandia memiliki perjanjian pinjaman siaga sebesar US$21 miliar berdurasi 1 tahun, namun kini diminta menjadi US$29 miliar berdurasi 2 tahun.

Dari Athena, parlemen Yunani menyetujui rancangan anggaran 2011 yang berisi pemangkasan defisit menjadi sekitar separuh dari level 2009. Dalam anggaran tersebut, sebanyak US$18,4 miliar (14 miliar euro) belanja akan dikurangi dan ada tambahan pemasukan dengan target defisit turun menjadi 7,4% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2011 dari estimasi 9,4% pada 2010. (dea/mrp)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top