Transaksi perumahan bisa tembus Rp26,6 triliun

JAKARTA: Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) memprediksi transaksi kredit pemilikan rumah (KPR) sepanjang 2010 berpotensi melampaui Rp26,6 triliun karena sebagian penghitungan masih diselesaikan oleh perbankan.
Heri Faisal | 22 Desember 2010 07:51 WIB

JAKARTA: Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) memprediksi transaksi kredit pemilikan rumah (KPR) sepanjang 2010 berpotensi melampaui Rp26,6 triliun karena sebagian penghitungan masih diselesaikan oleh perbankan.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) REI Setyo Maharso mengaku telah mendapatkan data nilai KPR rumah tapak (landed house) kelas menengah atas dari dua bank besar senilai Rp12 triliun terhitung hingga November 2010.

Angka sebesar itu, jelasnya, baru sekitar 60% dari akumulasi tenor kredit KPR rumah tapak menengah atas. Adapun sekitar 40% sisanya merupakan pembayaran tunai (cash) sebagai uang muka senilai Rp8 triliun.

Dengan demikian, transaksi KPR rumah tapak kelas menengah atas pada tahun ini mencapai Rp20 triliun. Angka tersebut bisa lebih besar apabila dihitung dengan kredit pemilikan pertokoan, ruang perkantoran dan apartemen. Apalagi, data itu baru dari dua bank besar, katanya, hari ini.

Di kelas perumahan sejahtera, paparnya, penjualan sepanjang tahun ini diprediksi masih bisa mencapai 120.000 unit mengingat penjualan rumah sejahtera dari PT Bank Tabungan Negara sudah sekitar 90.000 unit hingga 11 bulan pertama 2010.

Apabila harga satuan rumah sejahtera tapak rata-rata Rp55 juta per unit, akumulasi transaksi KPR termasuk uang muka bisa sekitar Rp6,6 triliun.

Dengan begitu, akumulasi nilai transaksi perumahan secara nasional sepanjang 2010 bisa menyentuh sedikitnya Rp26,6 triliun. Nilai transaksi tersebut diyakini pengembang meningkat sekitar 10% - 12% dibandingkan dengan nilai pada 2009.

Angka transaksi tersebut bisa lebih besar lagi karena perhitungannya belum termasuk transaksi secara cash bertahap [kontan bertahap] di sektor perumahan tapak dan susun kelas menengah atas yang dikembangkan kalangan pengembang besar seperti Agung Podomoro Group, terangnya.

Secara umum, lanjut Setyo, penjualan rumah khususnya di kelas menengah atas cukup bagus atau meningkat sekitar 15% dibandingkan dengan tahun lalu.

Pada sisi lain, penjualan rumah tapak dan susun di kelas menengah bawah sedikit mengalami hambatan akibat perubahan kebijakan pola subsidi, dari pola subsidi uang muka menjadi FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) serta pengetatan perizinan pembangunan rusunami dari Pemprov DKI Jakarta.

Meski sempat terjadi hambatan, kami tetap terus mendorong agar pembangunan rusunami [rumah sejahtera susun] terus berlanjut terutama di kota-kota besar pada 2011. Saat ini, sudah terdapat 249 menara baru yang mengantongi izin atau setara dengan 49.000 unit satuan rumah susun [sarusun], jelasnya.

Wakil Ketua Umum DPP-REI Bidang Perkantoran dan Pertokoan Handaka Santosa mengatakan pertumbuhan sektor properti pada 2011 diprediksi lebih tinggi dibandingkan dengan 2010. Sektor ekonomi akan lebih mengintensifkan capital expand. Sektor properti akan meresponsnya dengan lebih menggiatkan pembangunan superblok, jelasnya.(er)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top