Pengguna internet booming pada 2011

Yeni H. Simanjuntak | 22 Desember 2010 00:17 WIB

Pengguna internet di Indonesia saat ini berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebanyak 45 juta pengguna.

Penetrasi ponsel dengan fitur yang semakin lengkap serta semakin mudah terhubung dengan jaringan internet telah mendorong peningkatan penggunaan internet di Tanah Air.

Jejaring sosial tidak dipungkiri telah menjadi faktor lain yang membuat permintaan data internet melalui ponsel semakin besar.

Indonesia diklaim sebagai pengguna Facebook, sebuah situs jejaring sosial, terbesar kedua di dunia mencapai 27,8 juta pengguna, sedangkan mikro blog Twitter sebanyak 6,3 juta pengguna.

Fakta yang menunjukkan bahwa sebagian besar orang mengakses internet melalui ponsel, akses jejaring sosial yang didirikan oleh Mark Zuckerberg itu melalui ponsel mencapai 17,5 juta atau 63,4%.

Demikian juga dengan operator telekomunikasi menyatakan pertumbuhan layanan data tertinggi dibandingkan dengan layanan suara (voices) dan pesan singkat (SMS).

Melalui ponsel

Jika dilihat, jumlah komputer (personal computer/PC) lebih kecil dibandingkan dengan ponsel. Pelanggan ponsel pada tahun ini diperkirakan akan mencapai 200 juta pelanggan atau dengan penetrasi mendekati 100% dari jumlah penduduk.

Pasar PC pada tahun ini hanya sekitar 3,8 juta unit meliputi seluruh jenis PC seperti dekstop, laptop, netbook, dan media tablet. Pada tahun depan diperkirakan penjualan PC akan bertumbuh menjadi 5,3 juta unit.

Coba bandingkan dengan pengguna ponsel pada tahun ini yang hampir mencapai 200 juta jika dilihat dari penetrasi simcard tersebut.

Data International Data Corporation (IDC) mencatat pengapalan seluruh jenis ponsel ke Tanah Air periode Januari-September 2010 sebanyak 23 juta unit naik sebesar 31,43% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 17,5 juta ponsel.

Di sisi lain, komposisi ponsel low end semakin menurun dan bergeser ke ponsel mid end dan high end. Demikian juga dengan tingginya pertumbuhan ponsel cerdas (smartphone). Hal ini ditandai dengan penurunan penjualan ponsel low end yang dialami oleh beberapa vendor seperti Nokia.

Artinya, konsumen sudah bergeser untuk memiliki ponsel yang lebih canggih, bisa jadi betujuan agar mampu mengakses internet dengan mudah dan tentu mendapatkan fitur-fitur yang lebih menarik.

Bahkan, vendor asal Inggris Sony Ericsson pun menyatakan tidak lagi memproduksi ponsel low end dengan harga di bawah Rp1 juta. Kendati ponsel yang masuk ke dalam kategori bawah (low end) di pasar domestik masih mencapai sekitar 60%.

/Produktivitas atau hiburan/

Selain kebutuhan untuk mendukung kerja, bisa jadi penggunaan internet saat ini di Tanah Air hanya sebatas tren gaya hidup. Hal itu tidak terlepas dari pengembang jejaring sosial, vendor yang terus mengeluarkan devices dengan fitur semakin lengkap dan harga semakin kompetitif serta operator telekomunikasi yang menawarkan paket layanan data dengan iming-iming harga miring.

Operator menawarkan paket layanan data murah dengan menjalin kerja sama (bundling) dengan vendor.

Sebagai catatan, jumlah perangkat komputer portabel (mobile device) di dunia mencapai 5 miliar dengan tingkat penetrasi sebesar 70%. Adapaun, tingkat penetrasi ponsel pada 2020 diperkirakan akan mencapai 100%.

Sementara itu, penjualan ponsel 45 juta ponsel terjual setiap tahun dan diperkirakan 20%-40% pengguna ponsel secara aktif tersambung dengan koneksi internet.

Peluang operator telekomunikasi dalam menggarap pasar internet melalui ponsel (mobile internet) sangat besar, karena baru 20%-40% pelanggan yang telah tersambung dengan layanan internet secara aktif dari 197 juta pelanggan pada tahun ini.

Faktor tersebut yang membuat pasar internet melalui ponsel sangat besar dan menjadi peluang bagi operator telekomunikasi.

Masih sebatas hiburan

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memprediksikan pertumbuhan internet sebesar 25% per tahun.

Namun, perlu dikritisi penggunaan internet yang tinggi tersebut, tetapi belum mampu meningkatkan produktivitas. Padahal, penetrasi internet seharusnya menjadi leverage pertumbuhan ekonomi.

Beberapa contoh penggunaan internet yang mampu meningkatkan produktivitas seperti e-commerce, e-learning, e-government, e-business, e-banking, dan aktivitas lainnya.

Sebagai contoh, pelajar di Indonesia yang mencapai 60 juta, tetapi hanya sekitar 20% atau 12 juta pelajar yang bisa mengakses internet.

Data lain menunjukkan pengguna internet di Indonesia yang mencapai 45 juta pengguna dengan rincian sebesar 64% berusia 15-19 tahun atau generasi Netizen yaitu generasi yang lahir setelah 90-an.

Kondisi penggunaan internet di dalam negeri terdiri atas penggunaan email sebesar 59%, instant messanging 59%, 58% untuk jejaring sosial, untuk berita online sebesar 47%, penggunaan internet untuk blog sebesar 36%, dan games online mencapai 35%.

Berbagai faktor tersebut yang akan mendorong pertumbuhan internet pada tahun depan. Namun, apakah pemanfaatan internet tersebut akan dapat meningkatkan produktivitas atau masih tetap didominasi untuk entertainment semata? (sepudin.zuhri@bisnis.co.id)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup