I7 Perusahaan di Riau dilaporkan ke KPK

JAKARTA: Sebanyak 17 perusahaan yang diduga terlibat dalam kasus korupsi kehutanan di Provinsi Riau yakni terkait masalah Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) dilaporkan ke KPK untuk segera ditelusuri.Koordinator Divisi Investigasi
News Editor | 22 Desember 2010 08:14 WIB

JAKARTA: Sebanyak 17 perusahaan yang diduga terlibat dalam kasus korupsi kehutanan di Provinsi Riau yakni terkait masalah Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) dilaporkan ke KPK untuk segera ditelusuri.Koordinator Divisi Investigasi dan Informasi Publik ICW Agus Sunaryanto mengatakan penerbitan izin itu dilakukan dengan upaya melawan hukum sehingga menimbulkan kerugian negara. Perbuatan tersebut juga diduga menguntungkan sejumlah pribadi maupun korporasi."Kami melaporkan hal tersebut ke KPK untuk segera ditindaklanjuti, mengapa 17 perusahaan yang memperoleh izin itu justru tak diproses dalam tindak pidana korupsi sama sekali?" ujar Agus kepada pers seusai menyampaikan pengaduan ke kantor KPK hari ini.Dia menuturkan dugaan keterlibatan 17 perusahaan itu diperoleh dari hasil putusan mantan bupati Kabupaten Pelalawan Tengku Azmun Jaafar, dokumen tentang izin yang menyalahi ketentuan, dan kesaksian ahli. Azmun sendiri telah dihukum 11 tahun penjara denda Rp500 juta serta mengganti Rp12,26 miliar karena terbukti korupsi dalam penerbitan izin tersebut.ICW mencatat 17 perusahaan itu adalah PT Riau Andalan Pulp adn Paper, PT Merbau Pelalawan Lestrari, PT Selaras Abadi Utama, PT Uniseraya, CV Putri Lindung Bulan, CV Tuah Negeri, CV Mutiara Lestari, PT Rimba Mutiara Permai, PT Mitra Tani Nusa Sejati, PT Bhakti Praja Mulia, PTTrio Mas FDI, PT Satria Perkasa Agung, PT Mitra Hutani Jaya, CV Alam Jaya, CV Harapan Jaya, PT Madukoro dan PT Yos Raya Timber."Berdasarkan perhitungan ICW dan organisasi Jikalahari di Riau, kerugian negara diduga mencapai Rp2,8 triliun. Ini berdasarkan pada luas wilayah dan harga satuan kayu hutan," ujar Tama S. Langkun, peneliti Divisi Investigasi dan Informasi Publik ICW.Dia menegaskan implikasi dari pemberian IUPHHK-HT kepada perusahaan yang sama sekali tidak kredibel, menyalahi ketentuan hukum. Hal itu dilihat dari syarat pemberian izin, prosespemberian izin, sampai akibat yang ditimbulkan yakni perusakan lingkungan.Salah satu contohnya, sambung Tama, adalah ditemukannya pemberian izin oleh gubernur dan bupati. Padahal, berdasarkan PP No.34/2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Pengelolaan Kawasan Hutan, hanya Menteri Kehutanan yang berwenangmemberikan izin. Gubernur dan bupati hanya berwenang untuk memberikan rekomendasi.Pengaduan ICW tersebut diterima oleh Direktur Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat (PIPM) KPK Handoyo Sudrajat. Berdasarkan mekanisme di KPK, setiap pengaduan akan ditelaah terlebih dahulu apakah mengandung unsur tindak pidana korupsi atau tidak. Jika ada indikasi korupsi, maka akan dilanjutkan ke level penyelidikan. (tw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top