Terjebak di London

LONDON: Sekelompok wanita terlihat berkumpul sambil nonton film komedi dari layar sebuah laptop. Nampak pula tumpukan tas ukuran besar di sekeliling mereka. Meski bergembira menikmati film tetapi terlihat kelelahan di wajah mereka.
Bambang Supriyanto | 20 Desember 2010 07:24 WIB

LONDON: Sekelompok wanita terlihat berkumpul sambil nonton film komedi dari layar sebuah laptop. Nampak pula tumpukan tas ukuran besar di sekeliling mereka. Meski bergembira menikmati film tetapi terlihat kelelahan di wajah mereka.

Sementara tak jauh dari tempat itu troly troly penuh dengan barang bawaan ditata berkeliling layaknya sebuah benteng untuk tempat berlindung. Sebagian wanita berkulit hitam duduk tertidur di atas tas-tas itu.Lain lagi pemandangan di sebuah lorong menuju Terminal 3 bandara internasional Heathrow London pada hari Minggu itu. Terlihat berserakan kertas aluminium foil warna perak. Kertas yang bisa menahan suhu dingin itu digunakan sebagai alas tidur oleh calon penumpang sambil menunggu kepastian keberangkatan. Bukan hanya itu, sehari sebelumnya yakni Sabtu 18 Desember, ribuan calon penumpang terjebak di bandara paling ramai di Eropa itu. Mereka terpaksa menginap semalam, bahkan bisa lebih, lantaran pembatalan semua penerbangan dari Heathrow setelah turun salju dalam 3 hari berturut-turut. Ratusan penerbangan dibatalkan.Alhasil Heathrow yang megah itu tak ubahnya seperti kamp pengungsi korban bencana alam. Berantakan dan tak rapi. Sampah pun berserakan. Di setiap bagian dijadikan tempat untuk memejamkan mata dan meluruskan punggung. Apapun bisa dijadikan alas tidur, koran bekas, kain, dan kertas aluminium foil. Situasi hari itulah yang menyebabkan rombongan Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan tertahan hampir 15 jam. Bahkan, rombongan yang terdiri dari Handrito Hardjono, Kepala Proyek Restrukurisasi Utang, dan Ike Andriani, VP Legal Garuda Indonesia, sudah sempat naik pesawat, tetapi tertahan hampir 2 jam dan gagal terbang. Mereka pun diminta keluar dari pesawat dan menunggu pemberitahuan di dalam terminal. Celakanya, pihak bandarapun 'mengusir' mereka dari dalam terminal. Di tengah situasi tidak menentu dan cuaca di luar sampai minus 10 derajat tentu sulit untuk mencari kendaraan maupun tempat penginapan.Apalagi, maskapai Singapore Airline tujuan London-Jakarta transit di Singapura, tidak menyediakan penginapan jika gagal terbang. Padahal, seharusnya mereka memberikan pelayanan berupa penginapan.Menurut VP Corporate Communications Garuda Indonesia Pujobroto, sesuai dengan standar penerbangan internasional, seharusnya maskapai yang gagal terbang memberikan kompensasi penginapan kepada penumpang."Kita saja memberikan penginapan kepada 1.000 orang penumpang ketika ada masalah belum lama ini. Kita sebar di beberapa hotel di Jakarta," ujarnya.Dia menjelaskan rencana awal, rombongan terbang dengan KLM menuju ke Amstredam pada pukul 06.00, sebelum melanjutkan ke Jakarta dengan Garuda. Berangkat dari Grand Hyatt Churchil Hotel di kawasan Portman Square pukul 04.00 pagi.Hanya saja, penerbangan ke Amsterdam ternyata dibatalkan karena penutupan bandara Schiphol Amsterdam.Menurut Elisa, di dalam pesawat sempat menunggu selama 2 jam sebelum diminta keluar."Kita mencoba mencari penerbangan yang langsung dari London ke Jakarta. Akhirnya dapat SQ meski harus menunggu beberapa saat. Keberangkatannya pukul 11.00 dan kita sudah masuk pesawat. Namun, setelah menunggu 2 jam, kita diminta turun menunggu di terminal dengan janji pukul 17.00 akan diberitahu kembali," katanya.Namun, sampai malam sekitar pukul 21.00 baru dipastikan penerbangan dibatalkan. Akhirnya, rombonganpun kembali ke Grand Hyatt Churchil Hotel setelah tidak mendapatkan hotel di sekitar bandara. Akhirnya, empat kamar yang masih ada dibagi-bagi."Bandara penuh dengan orang-orang yang tiduran. Tidak ada tempat yang kosong. Kita juga tidak bisa ke mana-mana karena kendaraan umum seperti taksi juga sulit dengan cuaca seperti ini. Akhirnya kita dapat taksi dengan tarif tinggi sekitar 50 poundsterling, padahal biasanya cuma 10-15 pound. Sama saja dengan Jakarta ya," ujar Handrito.Menurut Ike, barang-barang masih ada di bagasi pesawat SQ. "Kita ke hotel pun hanya membawa tas yang ada di dalam kabin pesawat. Malam-malam kemarin (sekitar pukul 23.00) kita keluar mencari baju dan tas. Pak Handrito terpaksa pakai baju-baju yang seharusnya untuk oleh-oleh," katanya disela-sela sarapan Minggu pagi di restoran hotel itu.Saluran televisi skyNEWS Minggu siang waktu London menyiarkan tayangan dengan tittle BIG FREEZE. Terlihat situasi terakhir sejumlah bandara udara di Eropa, termasuk Heathrow.Pihak Heathrow menegaskan tidak ada penerbangan dari dua terminal hari ini (Minggu) yaitu 1 dan 4, sedangkan pada terminal 3 dan 5 pemberangkatan dilakukan secara selektif. Terminal yang disebutkan terakhir khusus untuk penerbangan antarbenua atau jarak jauh.Alasannya, pihak bandara masih menyelesaikan tebalnya salju dan es di landasan. Pihak bandara juga tidak menerima kedatangan baru dari maskapai manapun. Diumumkan juga agar penumpang mengecek kembali ke masing-masing maskapai sebelum meninggalkan rumah atau hotel.Minggu siang, ternyata ada pemberitahuan dari pihak SQ bahwa penerbangan yang tertunda sehari sebelumnya siap diberangkatkan. Rombongan pun segera bergegas ke bandara. Alhasil, sekitar pukul 16.00 sebuah pesawat milik SQ terlihat terbang menembus bandara Heathrow. "Selamat jalan Pak Elisa, Pak Handrito, Bu Ike," teriak Pujobroto bersama dengan saya dan rekan Kompas yang masih berada di Heathrow berjuang mendapatkan tiket balik ke Jakarta.Bandara alternatifKami bertiga, kloter terakhir dari acara penandatanganan restrukturisasi utang antara Garuda dengan European Export Credit Agency (ECA) masih belum ada kepastian.Dirut Garuda Emirsyah Satar langsung balik seusai penandatanganan pada Jumat lalu. Keputusan langsung pulang itu sangat tepat karena beberapa jam setelah itu bandara Heathrow ditutup. "Ambil keputusan harus cepat dan tepat he hehe," kata Emir melalui pesan singkat pada Sabtu.Nasib rombongan selanjutnyapun sudah dapat ditebak. Terutama kloter Pujobroto, saya, dan Totok Wijayanto, fotografer Kompas.Tiket awal, terbang dengan KLM tujuan Amsterdam pada Minggu 6.15 waktu London. Rencananya dari bandara Schiphol Amsterdam terbang dengan Garuda menuju ke Soekarno-Hatta Jakarta. Semuapun jadi berantakan akibat guyuran salju beruntun dalam 3 hari.Minggu siang, rombongan yang dibantu oleh 'lokal staff' Aloysius Priadi, marketing officer bank BUMN di London, berangkat menuju Heathrow dengan tujuan mencari tiket untuk keluar dari London."Tiket apa saja, yang penting keluar dulu dari London. Kalau mengandalkan KLM yang ke Amsterdam bisa tidak berangkat-berangkat. Bisa langsung ke Dubai, Singapura, atau Kuala Lumpur. Yang penting ada kepastian," jelas Pujobroto.Kabar yang beredar, SQ membuka penerbangan ke Jakarta pukul 22.00. Kita pun bergerak ke Terminal 3 Heathrow di tengah kencangnya hembusan angin di bawah 0 derajat itu.Selain mencari tiket, kita mencoba untuk mengambil gambar situasi terakhir di bandara itu. Namun, baru beberapa kali pemotretan, keamanan bandara memperingatkan bahwa dilarang mengambil foto. Agaknya, pihak Heathrow khawatir kondisi carut marut yang terjadi makin tereksploitasi ke media.Menurut Priadi, sebenarnya tidak ada larangan untuk mengambil gambar. "Petugas itu mengatakan dilarang ambil gambar karena bisa membuat penumpang makin stres. Itu alasan yang mengada-ada," tuturnya.Setelah harus mengantre selama beberapa jam, akhirnya diketahui bahwa pihak SQ tidak menjual tiket baru. Mereka hanya melayani penumpang yang memegang tiket yang belum terbang."Seharusnya ada penjelasan atau papan pengumuman 'no selling new ticket' sehingga kita tidak perlu antre lama-lama begini," tutur Priadi.Alhasil, malam itu kami putuskan untuk balik ke hotel. Sampai berita ini dibuat Senin pagi, ada sedikit titik terang rombongan akan berangkat via bandara alternatif Cartwidt, terbang dengan Emirates transit di Dubai, take off pukul 13.40. Semoga lancar. Amin.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top