Goethe gelar diskusi tentang Islam

JAKARTA: Goethe Institut Jakarta mengadakan pemutaran film dan diskusi bertema 'Lautan Wahyu' dengan menghadirkan tokoh dan cendekiawan Muslim Indonesia yang akan membicarakan mengenai hakikat ajaran Islam malam ini.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 20 Desember 2010  |  05:05 WIB

JAKARTA: Goethe Institut Jakarta mengadakan pemutaran film dan diskusi bertema 'Lautan Wahyu' dengan menghadirkan tokoh dan cendekiawan Muslim Indonesia yang akan membicarakan mengenai hakikat ajaran Islam malam ini.

Acara ini dimulai pada pk.19.30 di GoetheHaus yang diawali pemutaran film Kaum Beriman dengan pembicara Said Aqil Siradj dan Ignas Kleden dan moderator Mohamad Guntur Romli, kata kata Asisten Kulturprogramm Goethe-Institut Indonesia Dinyah Latuconsina hari ini kepada Bisnis.Com.

Larangan menara mesjid di Swiss, keberhasilan Geert Wilders di Belanda serta perdebatan bersifat polemik seputar integrasi di Jerman, yang dipicu oleh buku berjudul Deutschland schafft sich ab (Jerman menghilangkan jatidirinya) karangan mantan anggota dewan direksi bank sentral Jerman Thilo Sarrazin, menunjukkan betapa mendesaknya suatu pembahasan yang obyektif mengenai Islam.

Di Jerman, semua warga Muslim dituntut menjalani agama mereka dengan cara yang dalam segala segi menghormati konstitusi Republik Federal Jerman. Mayoritas warga Muslim di Jerman adalah orang Turki, yang sehubungan dengan latar belakang mereka dekat dengan Islam yang sekuler dan berwawasan terbuka. Tetapi warga Muslim di Jerman pun tak terlepas dari pengaruh aliran-aliran radikal dari dunia Arab.

Islam yang lebih liberal di Indonesia menjadikan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia ini sebagai mitra terpenting bagi dunia Barat, di samping Turki, dalam hal hidup berdampingan secara damai antara umat Muslim dan Kristen.

Dalam rangkaian acara Lautan Wahyu, ahli agama dari Indonesia dan alumni Jerman mendiskusikan pengalaman sehari-hari kelompok agama minoritas, kerukunan antaragama, serta aspek-aspek spiritual Islam yang penuh damai.

Dasar bagi diskusi ini adalah serial TV baru Yayasan Libforall yang membuka wawasan dan menyampaikan pesan toleransi berlandaskan perdamaian untuk mengimbangi pemberitaan yang selama ini didominasi oleh Islamisme radikal.

Libforall didirikan oleh mantan Presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan pengusaha Amerika C. Holland Taylor sebagai reaksi terhadap peristiwa 11 September serta bom Bali 2002.

Selain oleh Yayasan Libforall, rangkaian acara ini turut diselenggarakan oleh Yayasan Friedrich Naumann untuk Perdamaian, Dinas Pertukaran Akademis Jerman serta Portal Alumni Jerman. (tw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top