Produk elektronik lokal butuh perlindungan pasar

JAKARTA: Pemerintah diminta melindungi industri elektronik nasional agar bisa berdaya saing menghadapi serbuan produk impor China yang kini berselisih harga hingga 30% di tengah tekanan industri akibat harga bahan baku yang terus meningkat.
News Editor | 17 Desember 2010 17:00 WIB

JAKARTA: Pemerintah diminta melindungi industri elektronik nasional agar bisa berdaya saing menghadapi serbuan produk impor China yang kini berselisih harga hingga 30% di tengah tekanan industri akibat harga bahan baku yang terus meningkat.

Wakil Sekjen Gabungan Elektronik Yeane Keet mengatakan saat ini pasar elektronik di Tanah Air menghadapi peperangan harga dengan barang-barang impor, terutama yang berasal dari China. Menurut dia, terdapat perbedaan harga yang cukup signifikan antara produk elektronik nasional dengan produk impor dari China.

Ada selisih harga sekitar 10%--20% bahkan ada juga produk-produk elektronik tertentu yang selisihnya bisa sampai 30%. Kami memang menghadapi kesulitan mengenai daya saing sekarang. Produk elektronik di pasaran domestik memang lagi terjadi perang harga dengan barang China, katanya hari ini.

Yeane mengatakan selisih harga tersebut disebabkan oleh pemberian subsidi oleh pemerintah China kepada prinsipal produk elektronik buatan China. Di sisi lain, tuturnya, produk pabrikan lokal menghadapi berbagai tekanan dan masalah, seperti kenaikan harga bahan baku dan adanya kebijakan-kebijakan yang cenderung men-discourage industri elektronik dalam negeri.

Berdasarkan data London Metal Exchange aluminium yang sempat bertengger di posisi sekitar US$2.450 per ton pada awal November, sempat terjerembab ke level US$2.210 per ton di akhir bulan. Namun, terhitung sejak awal Desember hingga kini harga aluminium kembali merangkak naik secara perlahan dari posisi sekitar US$2.250 per ton di awal bulan menjadi sekitar US$2.320 per ton pada pertengahan bulan.

Terkait dengan kenaikan harga tersebut, Yeane mengatakan industri tidak berani melakukan evaluasi harga kendati harga aluminium turut mempengaruhi biaya produksi. Biasanya kenaikan cenderung terjadi dua bulan setelah ada kenaikan harga bahan baku. Akan tetapi, dengan kondisi pasar yang kurang baik bagi produk dalam negeri, kami cenderung tidak akan menaikkan harga.

Sementara itu, Yeane mengatakan seharusnya pemerintah melakukan beberapa langkah yang diperlukan untuk kembali mendongkrak daya saing produk elektronik nasional. Langkah-langkah tersebut meliputi harmonisasi tarif dan penerapan standar nasional Indonesia (SNI) dengan memperbanyak jumlah Lembaga Sertifikasi Produk dan laboratorium uji , perbaikan pengelolaan ketenagalistrikan sehingga tidak terjadi pemadaman tanpa pemberitahuan, serta pemberian insentif bagi investor, misalnya dengan meninjau ulang penerapan PPnBM.

Kalau itu dilakukan setidaknya industri masih bisa bersaing harga mendekati harga produk elektronik impor China. Ya..mungkin pengurangannya bisa mendekati 20% dari tingkat harga yang ada saat ini, ungkapnya.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, hingga 31 Oktober nilai impor produk elektronik telah mencapai US$3,2 miliar. Nilai impor tersebut meningkat tajam dibandingkan pada periode yang sama 2009 yang hanya US$1,8 miliar.

Di sisi lain, Senior Manager Research and Markets Laura Wood sebelumnya mengatakan pasar produk elektronik Indonesia diperkirakan bisa mencapai sekitar US$11,6 miliar pada 2014 atau melonjak 58,9% dibandingkan dengan proyeksi nilai pasar tahun ini yang diperkirakan mencapai US$7,3 miliar.

Hal itu dipicu oleh harga produk yang mulai terjangkau, serta peningkatan jumlah outlet ritel produk elektronik, katanya.

Pada 2010, peningkatan pendapatan penduduk serta menurunkan tingkat pengangguran diharapkan bisa mendongkrak permintaan produk-produk elektronik. Konsumen elektronik Indonesia, katanya, tetap didominasi oleh penduduk yang tinggal di kota-kota besar.

Pertumbuhan permintaan per tahun sebenarnya diprediksikan sekitar 11% hingga 2014. Namun, membanjirnya produk-produk elektronik murah asal China pasca kesepakatan China-Asean Free Trade Agreement semakin memperkuat pertumbuhan tersebut.

Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin Budi Darmadi sebelumnya mengatakan pertumbuhan industri elektronika nasional kini mencapai 8,5%. Pemerintah, katanya, menargetkan untuk meningkatkan pertumbuhan industri sebesar 9% dan membuka lapangan kerja sebanyak 150.000 per tahun dengan investasi tambahan sebesar US$4 miliar dalam 5 tahun mendatang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top