Pengaturan bancassurance difokuskan pada unit linked

JAKARTA: Koordinasi pengaturan bancassurance antara Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan Bank Indonesia (BI) akan difokuskan pada produk unit linked (gabungan asuransi dan investasi). Kepala Biro Perasuransian
Mochammad Subarkah | 17 Desember 2010 08:18 WIB

JAKARTA: Koordinasi pengaturan bancassurance antara Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan Bank Indonesia (BI) akan difokuskan pada produk unit linked (gabungan asuransi dan investasi). Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata mengatakan koordinasi pengaturan bancassurance tersebut sampai sekarang belum final, tetapi akan diutamakan pada produk-produk yang berhubungan dengan investasi saham. Misalnya bancassurance untuk produk unit linked yang menempatkan investasinya pada instumen saham atau reksadana saham. Hal itu karena adanya ketentuan bank yang juga tidak diperbolehkan bermain di saham. "Koordinasi dengan BI dalam pengaturan bancassurance itu sekarang agak kendur, karena banyak waktu tersita untuk pembahasan Otoritas Jasa Keuangan [OJK]. Koordinasi akan dilanjutkan lagi awal tahun depan, terutama pada produk unit linked," ujarnya, saat ditemui, hari ini. Isa menuturkan rencana pengaturan tersebut lebih disebabkan karena BI ingin membuat standar risk manajemen dalam kerja sama yang dilakukan perbankan dengan perusahaan asuransi. Dia menambahkan saat ini BI juga terlihat sudah memperbaiki standar risk manajemen di bank di mana perusahaan asuransi juga harus menyesuaikan diri atau mengikuti prosedur yang dipersyaratkan. "Pada awalnya memang akan dikeluhkan karena akan menjadi menjadikan waktu lebih lama untuk perusahaan asuransi memulai bancassurance karena penerapan review oleh BI, meski sudah diizinkan oleh Biro Perasuransian," jelasnya. Isa sempat menyatakan penjualan produk asuransi oleh perbankan sebenarnya memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan kinerja kedua industri keuangan tersebut, atau merupakan kerja sama yang saling menguntungkan. Potensi besar mendorong kinerja itu antara lain karena adanya keuntungan yang dapat diperoleh perbankan berupa fee based income (pendapatan di luar core bisnis) dari penjualan produk asuransi yang dilakukan. Di sisi lain, perusahaan asuransi dapat menjual produknya tanpa harus menyediakan agen khusus yang ditempatkan di bank, atau berarti dapat menghemat biaya operasional. Bahkan, perusahaan asuransi juga dapat menghemat biaya investasi dari upaya perluasan distribusi lewat pembukaan kantor-kantor cabang, mengingat eksistensi perbankan yang telah memiliki jaringan pemasaran dan back up data yang kuat. "Kedua pihak sangat berminat untuk membahas itu karena akan diuntungkan sangat besar. Bank bisa dapat fee based income, perusahaan asuransi dapat menghemat biaya operasional dan investasi," jelasnya. Isa menyatakan selama ini pihak perbankan tidak dapat menjual produk asuransi, meski kerja sama yang terjalin dengan industri perasuransian sudah lama dilakukan, dalam menggarap bancassurance. Hal tersebut lebih ditujukan guna menghindari kesalahan penjualan yang dapat merugikan nasabah, mengingat tenaga pemasaran perbankan yang tidak dilatih secara khusus untuk memiliki kemampuan dan pemahaman dalam bidang asuransi. Pemahaman dan kemampuan tersebut terutama adalah untuk mengarahkan nasabah dalam memilih produk asuransi yang dibutuhkan sesuai dengan kemampuan dan target tertentu yang ingin dicapai. "Kami sudah beberapa kali bertemu untuk mendiskusikan apakah bank punya kemampuan menjual produk yang risikonya ditanggung nasabah, atau memang harus melalui pelatihan khusus terlebih dahulu," tuturnya. (04)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup