Ferry: Saham komoditas jadi primadona

JAKARTA: Setelah PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) go public, ada dua calon emiten batu bara yang akan masuk bursa saham. Kedua perusahaan itu adalah PT Harum Energy Tbk, yang dikendalikan oleh pengusaha Kiki Barki, dan PT Borneo Lumbung Energi & Metal,
News Editor | 17 Desember 2010 14:12 WIB

JAKARTA: Setelah PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) go public, ada dua calon emiten batu bara yang akan masuk bursa saham. Kedua perusahaan itu adalah PT Harum Energy Tbk, yang dikendalikan oleh pengusaha Kiki Barki, dan PT Borneo Lumbung Energi & Metal, penghasil batu bara berkalori tinggi jenis coking coal yang dimiliki oleh pengusaha Samin Tan dan Suryadinata Sumantri. Bagaimana pasar melihat saham calon emiten batu bara? Berikut petikan wawancara dengan Presiden Direktur PT Ciptadana Securities Ferry Budiman Tanja, mengenai hal tersebut. Ciptadana tengah menangani IPO Harum Energy Tbk.Bagaimana minat pemodal terhadap saham komoditas seperti batu bara, di tengah antusias investor memburu saham emiten barang konsumsi?Meski saham barang konsumsi ramai dikoleksi oleh investor, saya mempunyai pandangan saham berbasis komoditas, apa pun itu barangnya, bisa menjadi primadona lagi, paling lambat pada kuartal IV tahun ini hingga tahun depan. Alasannya sederhana, karena nilai dolar AS dan aset [komoditas] tidak seimbang, sehingga akan terjadi revaluasi aset. Hal itu bisa membuat harga komoditas kembali naik.Harga emas tetap bertahan di level US$1,300, begitu juga dengan harga nikel, timah, batu bara, dan CPO. Dengan pertimbangan itu, saya yakin saham berbasis komoditas bisa menjadi penggerak usaha bursa saham nasional mulai akhir tahun ini hingga 2011.

Bukankah saham emiten barang konsumsi cukup menarik?Faktor utama penghambat saham barang konsumsi adalah inflasi, apalagi harga saham emiten konsumsi sudah cukup tinggi karena investor banyak memburunya.

Bicara soal emiten berbasis komoditas, apakah harga saham Harum Energy yang dipatok Rp5.200 itu termasuk mahal?Saya kira harga IPO yang ditetapkan di level Rp5.200 per saham yang diskon bila dibandingkan dengan emiten sejenis yang ada di pasar. Level Rp5.200 itu mencerminkan estimasi price to earning ratio [P/E] 2011 sebesar 7,2 kali, itu pun dengan asumsi harga jual rata-rata batu bara di posisi US$70 per ton. P/E Emiten baru bara di pasar pada 2011 diperkirakan mencapai 11 kali, sehingga harga IPO Harum menawarkan potensi diskon 30%. Harga rata-rata batu bara di pasar internasional, yang mengacu pada indikator harga Newcastle, saat ini di atas US$84 per ton.

Pada tahun ini, target produksi Harum Energy 7,4 juta ton, 10 juta ton pada 2011, dan 13 juta ton pada 2012. Apakah itu tidak terlalu agresif?Di Grup Tanito, total produksi batu bara bisa mencapai di atas 10 juta ton pada tahun ini. Selain Harum Energi, ada empat hingga lima perusahaan batu bara lain di Grup Tanito.Saya kira bukan hal yang sulit untuk meningkatkan produksi menjadi 10 juta ton pada tahun depan, apalagi infrastruktur di tambang di MSJ [PT Mahakan Sumber Sejahtera] dan SB [PT Santan Batubara] sudah tersedia, seperti jalan, pelabuhan, kapal, dan truk. Jadi tinggal beli peralatan tambahan yang diperlukan.

Hingga kuartal I/2010, Harum hanya memproduksi 1,73 juta ton batu bara, padahal curah hujan cukup tinggi saat ini. Bagaimana bisa mencapai target 7,4 juta ton?Saya kira itu tantangan buat manajemen Harum Energy untuk mencapai target itu. Mereka mempunyai keahlian dan pengalaman di bidangnya, apalagi utang perseroan relatif kecil dan rekam jejak yang terbukti. Pak Kiki Barki adalah penguasaha pioner di sektor batu bara.

Dengan divestasi 300 juta saham Harum milik founder PT Karunia Bara Perkasa (KBP), apakah Kiki Barki akan keluar dari Harum? Setelah IPO, KBP masih mengendalikan 80% saham Harum Energy. Sebenarnya Harum Energy hanya membutuhkan dana IPO Rp1 triliun atau sekitar 200 juta saham. Namun, kami [underwriter] berpendapat investor membutuhkan likuiditas. Kalau hanya melepas hanya 200 juta saham, saya kira nanti sahamnya tidak likuid, sehingga diputuskan KBP mendivestasi 300 juta saham dari semula sebanyak-banyaknya 450 juta saham dan 200 juta saham baru. Jadi pengurangan jumlah saham divestasi karena Harum sebenarnya hanya memerlukan Rp1 triliun dari IPO dan perlunya likuiditas setelah IPO. Kalau tidak likuid, sahamnya menjadi kurang menarik.

Bagaimana komitmen para penjamin emisi Harum Energy?Semua [Goldman Sachs, Deutsche Bank, Ciptadana Securities, dan Mandiri Sekuritas] memberikan komitmen secara penuh. Saat ini ada 15 sindikasi penjamin emisi. Mulai 28 September hingga 30 September juga mulai penawaran saham untuk pooling yang dijatah 2% atau 10 juta saham untuk investor ritel.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top