Menelusuri bursa tertua dunia

News Editor | 14 Desember 2010 10:27 WIB

AMSTERDAM: Ceritanya berawal dari Amsterdam, tepatnya di kawasan Dam Square atau Damrak dalam bahasa setempat. Dari stasiun pusat Amsterdam, saya bergerak menuju tempat itu.

Dalam sejumlah peta resmi kota itu, jaraknya berkisar sekitar 750 meter. Jalur ini sangat ramai, mungkin paling ramai di kota ini. Yang pernah mampir di sini pasti ingat, di bagian kanan jalan berjejer pertokoan kafe dan restoran. Persis di depan toko India, Gandi namanya, saya melemparkan pandangan ke kiri.

Ada gedung tua besar bergaya klasik berdiri di sana. Jangan-jangan ini gedung bersejarah itu, saya coba menerka. Nama gedung itu Beurs Van Berlage. Apa itu gedung stock exchange? saya bertanya kepada seorang gadis Belanda, Marina yang sedang melepas tali ikatan sepedanya di pinggir jalan itu.

Bukan, jawabnya. Atau mungkin kalau itu bekas gedung bursa jaman dulu? saya menimpali lagi. Ya barang kali, tapi saya tidak tahu pasti, jawabnya. Yang menjadi rujukan saya adalah buku Pasar Modal Indonesia, Restropeksi Lima Tahun Swastanisasi BEJ (1997).

Di situ tertulis bahwa bursa tertua dunia adalah Amsterdam Effektenbeurs yang didirikan di Dam Square 1611. Para pedagang mondar mandir di jalanan sekitar katedral sembari meneriakkan dagangannya, demikian tulis buku itu. Di Damrak, saya pernah berdiri di bawah patung National Monument, memandang ke depan ke arah istana.

Di samping Royal Palace berdiri gedung tua dengan menara seperti pada bangunan gereja. Saya sempat bertanya kepada Yohanes yang sedang sibuk mencuil roti untuk dibagikan kepada merpati yang berkerumun di pusat keramaian itu. Kepada lelaki tua dengan usia di atas 60 tahun itu saya cek. Apa Anda tahu apa dulu itu gedung katedral?

Dia mengerutkan dahi sambil berpikir. Ya dulu hampir di setiap sudut kota ini ada gereja. Saya kira ya, jawab orang tua itu. Sekarang gedung itu adalah salah satu pusat perbelanjaan. Tapi dia tidak tahu ketika saya bertanya lagi apakah dia tahu kalau di sekitar itu pada 400 tahun yang silam para pendatang mulai melakukan transaksi saham.

Maklum dia orang kebanyakan yang awam soal sejarah kotanya. Lalu saya menuju Beursplein 5. Letaknya persis setelah Beurs Van Berlage dari arah stasiun. Hanya saat menelusuri jalan itu, saya kelewatan karena posisinya menjorok ke dalam. Ke samping lagi adalah pusat belanja De Bijenkorf yang langsung berhadapan dengan National Monument dengana lata berlakang Hotel Krasnapolsky.

Depan gedung itu terpampang tulisan kecil Eronext. Nama itu mengingatkan kita bahwa 22 September 2000 bursa Amsterdam sudah bergabung dengan bursa Brussel dan Paris. Tahun 2007 New York Stock Exchange (NYSE) dan Euronex bergabung menjadi bursa terbesar dunia dengan nama NYSE Euronext. Kepada para penjaga gedung itu saya minta bertemu dengan orang yang betanggungjawab menjelaskan informasi soal bursa.

Mereka lalu memanggil seseorang. Datanglah perempuan muda yang memperkenalkan dirinya sebagai Hanna Muller. Dari penjalasan saya, dia langsung mengambil buku berjudul. Beursplein, Een Capital Monument (2000). Sejarah bursa ada di buku ini. Persediaan buku habis, tapi saya pegang buku ini.

Kalau mau, Anda bisa beli dari saya seharga 10 euro. Ada buku lain yang diberikan cuma-cuma. Judulnya Verenining Voor De Effectenhandel 1876-1996. Hanna terima kasih Saya pamit sambil berjanji akan menulis email buat dia untuk mendalami informasi ini. Saya kembali ke Denhaag. Dalam perjalanan pulang sambil membolak-balik buku Beursplein 5 yang juga dimuat terjemahan dalam bahasa Ingris, saya menulis email untuk Hanna.

Hanna it is very kind of you today. Would you tell me where I can find the oldest share in the world. Dia menjawab, In the national archic there is so many document about VOC. But I dont think they will show you this kind of document, ecept in the special accasion. Kesokan harinya saya bergerak menuju gedung Archiv National, disamping stasiun Denhaag.

Saya diberi buku panduan berjudul: TheArchives of the Dutch East India Company (1602-1795). Benar seperti pesan Hanna, dokumen itu tidak bisa dilihat. Saya diminta untuk mengirim permintaan dulu melalui email. Kemudian saya sadar bahwa mestinya saya tidak perlu bersemangat memburu sejumlah dokumen yang lain. Karena pada saya sudah cukup pegangan hanya untuk sekadar sebuah konstruksi ingatan.

Apalagi pada saya ada dua buku dari penulis sejarah maritim yang dibeli dari toko buku di kawasan De Passage, Den Haag, yang populer itu. Yang satu adalah The Ditch East India Company, Expansion and Decline (Femme S. Gaastra 2003). Dan yang lain adalah Ships, Sailors, and Spices: East India Companies and the Shipping in the 16th, 17th and 18 th Centuries (ed. Jaap R. Bruijn and Femme S. Gaastra, 1993) .

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top