Jakarta belum perlu tambahan mal kelas atas

JAKARTA: Jakarta belum membutuhkan penambahan gedung perbelanjaan ritel modern untuk segmen kelas menengah ke atas tetapi pusat perbelanjaan yang ada perlu meningkatkan kualitas untuk kepuasan pengunjung.Dewan Penasehat Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia
Bambang Supriyanto | 13 Desember 2010 04:42 WIB

JAKARTA: Jakarta belum membutuhkan penambahan gedung perbelanjaan ritel modern untuk segmen kelas menengah ke atas tetapi pusat perbelanjaan yang ada perlu meningkatkan kualitas untuk kepuasan pengunjung.Dewan Penasehat Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Handaka Santosa mengatakan masyarakat menengah atas tidak membutuhkan terlalu banyak pusat perbelanjaan. Asalkan, tegasnya, yang sudah ada memiliki konsep jelas dalam memenuhi kebutuhan mereka.Menurut dia, persoalannya adalah tidak semua pusat perbelanjaan dibangun serta dikembangkan dengan konsep yang matang. Pasalnya, banyak pengelola mal tidak mengerti seluk beluk bisnis ritel."Saya kira mal dengan segmen menengah ke atas untuk beberapa tahun sudah cukup, belum perlu ditambah lagi. Di Jakarta Pusat, kita sudah punya sekelompok mal di bundaran HI, di selatan juga ada mal menengah atas di Senayan, di utara juga sudah ada. Sementara cukup dulu untuk segmen menengah atas, mau ditaruh di mana lagi? Lagi pula pasarnya juga tidak seluas segmen lain," ujarnya saat ditemui Bisnis.Handaka menegaskan pusat perbelanjaan yang dimaksud yaitu segmennya hanya menengah atas serta tidak beririsan dengan kelas lain. Menurut dia, beberapa pusat perbelanjaan menengah atas banyak yang memperluas segmen. Akibatnya, pengunjungnya beririsan dengan pusat perbelanjaan yang menyasar kelompok menengah maupun menengah ke bawah.Handaka menyesalkan banyaknya pengembangan mal serta pusat perbelanjaan tanpa konsep yang cukup kuat, sehingga perlu dibenahi agar mendapat penjualan yang maksimal.Menurut dia, meski pembangunan pusat perbelanjaan berkembang dalam bisnis properti, tetapi pengembangan selanjutnya adalah porsi bisnis ritel. Oleh karena itu, sejak awal pembangunan, konsep ruang pamer ritel harus sudah direncanakan dengan seksama."Ritel adalah jiwa, nyawa dari pusat perbelanjaan seperti mal. Semuanya harus memiliki konsep yang jelas, mulai dari luasan masing-masing gerai, gerai mana yang boleh bergabung, harus disesuaikan dengan konsep serta segmen, termasuk soal lokasi gerai. Jangan terburu-buru mengisi gerai yang kosong, harus disesuikan dengan konsep," katanya.Handaka menjelaskan sering kali pihak pengelola pusat perbelanjaan kurang sabar ketika ada gerai yang kosong sehingga asal saja menambah tenant. Seharusnya, pihak pengelola menunggu tenant yang sesuai konsep untuk mengisi gerai tertentu di lokasi tertentu."Misalnya saya punya gerai yang branded, tidak mungkin di sebelahnya saya letakkan toko asesoris yang asal karena kebutuhan mengisi gerai. Namun, hal seperti ini sering terjadi pada beberapa mal karena tergesa agar tidak kosong," tutur Handaka yang juga menjabat sebagai CEO Senayan City.(yn)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top