Bunga pembiayaan baru terbuka direvisi

SURABAYA: Kalangan bank pelaksana kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi memberi sinyal bahwa patokan suku bunga kredit dalam pola baru pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) masih terbuka untuk direvisi.Pertimbangan para bankir
Fatkhul-nonaktif
Fatkhul-nonaktif - Bisnis.com 13 Desember 2010  |  12:20 WIB

SURABAYA: Kalangan bank pelaksana kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi memberi sinyal bahwa patokan suku bunga kredit dalam pola baru pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) masih terbuka untuk direvisi.Pertimbangan para bankir tersebut berdasarkan atas proyeksi makroekonomi nasional pada kuartal I/2011 (Januari - Maret) yang dihubungkan dengan fluktuasi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Direktur Consumer Banking PT Bank Tabungan Negara Tbk (Persero) Irman A. Zahiruddin menjelaskan peluang untuk merevisi bunga FLPP masih sangat terbuka mengingat bank pelaksana yang terlibat dalam penyaluran FLPP juga akan diperluas. Saat ini, jelasnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (Persero) juga sudah terlibat dalam menyalurkan FLPP dengan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera), sedangkan PT Bank Sumut masih dalam proses pengkajian."Dalam minggu ketiga Desember 2010, akan ada diskusi di kalangan bank pelaksana [yang terlibat] untuk menetapkan suku bunga FLPP. Nanti akan dilihat dari sisi makroekonomi pada Januari hingga Maret 2011. Dari situ akan disepakati apakah bunga FLPP ditetapkan naik, turun atau tetap," katanya seusai diskusi Sosialisasi Kebijakan Bantuan FLPP, hari ini.Saat ini, pemerintah dan bank pelaksana memberlakukan bunga FLPP untuk KPR bersubsidi sekitar 8,15%-9,95% atau lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga komersial antara 12%-14%. Hal itu didasarkan pada penetapan BI Rate yang stabil di posisi 6,5% sepanjang 2010 dan pertimbangan daya dukung APBN serta dana perbankan. (gak)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top