Pemerintah janji beri insentif untuk Kilang Balongan

JAKARTA: Pemerintah berkomitmen untuk memberikan dukungan insentif dan kemudahan untuk proyek kilang di Balongan, Jawa Barat, dengan nilai investasi mencapai US$6 miliar, hasil kerjasama Kuwait Petroleum Corporation (KPC) dengan PT Pertamina (Persero).
manda
manda - Bisnis.com 13 Desember 2010  |  11:15 WIB

JAKARTA: Pemerintah berkomitmen untuk memberikan dukungan insentif dan kemudahan untuk proyek kilang di Balongan, Jawa Barat, dengan nilai investasi mencapai US$6 miliar, hasil kerjasama Kuwait Petroleum Corporation (KPC) dengan PT Pertamina (Persero).

Sebagai kelanjutan rencana investasi tersebut, petinggi KPC dari negera Timur Tengah tersebut dijadwalkan bertemu dengan Menteri Perindustrian (Menperin) M.S Hidayat dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, pada besok (14/12).

Besok, saya dan Gita [Gita Wirjawan] akan bertemu dengan mereka. Kami belum tahu permintaan mereka apa, tetapi kami berupaya akan memberi kepastian [jaminan investasi]. Kami akan berikan. Saya berharap, maksimal 2012 kilang ini sudah harus mulai dibangun, kata Hidayat, dalam pertemuan CEO/ Owners Gathering yang digelar Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), hari ini.

Sementara itu, Gita membenarkan adanya rencana kunjungan jajaran petinggi KPC ke Indonesia. Menurut Gita, KPC dan Pertamina akan mematangkan rencana pembangunan kilang, khususnya kepentingan studi kelayakan [feasibility study].

Selain itu, mereka ingin cerita sedikit pengalaman mereka tentang pembangunan kilang di tempat lain, termasuk di Vietnam. Dan, apakah potret penyikapan fiskal [insentif] yang ada di negara tersebut dapat ditampilkan di Indonesia. Nanti akan kami eksplorasi, tegasnya.

Terkait bentuk insentif yang akan diberikan pemerintah? Gita belum dapat memastikan secara tegas. Namun, pihaknya menegaskan akan mendengarkan terlebih dahulu paparan investor tersebut terkait gambaran insentif yang diberikan Vietnam.

Insya allah kita bisa berikan dukungan. Sudah firm untuk melakukan studi kelayakan. Itu akan selesai dalam waktu 6 bulan. Nilai investasinya US$6 miliar. Membangun kilang sekitar 3-4 tahun, kalau dibangun akhir 2011, berarti 2015 baru jadi, kata Gita.

Nota kesepahaman kerjasama antara Pertamina dengan KPC telah ditandatangani kedua pihak di Kuwait, belum lama ini. Tahap selanjutnya adalah persiapan dan studi kelayakan selama 6 bulan. Kunjungan pihak KPC ke Indonesia pada akhir tahun ini sebenarnya telah dijadwalkan dengan agenda membuat perjanjian kerjasama serta membangun perusahaan patungannya.

Hidayat sebelumnya menegaskan porsi kepemilikan saham dari perusahaan patungan tersebut belum dibahas namun kemungkinan besar akan seimbang antara kedua pihak.

Sesuai kesepakatan, kapasitas produksi kilang minyak perusahaan patungan Pertamina dan perusahaan Kuwait di Balongan tersebut sekitar 150.000 barel. Selain memproduksi bahan bakar minyak, perusahaan minyak Kuwait tersebut juga bersedia terlibat dalam aktivitas produksi produk turunannya yang akan digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia dalam negeri.

Pembangunan kilang baru di dalam negeri saat ini sangat dibutuhkan, terutama untuk mendukung pengembangan industri petrokimia nasional. Saat ini, Indonesia masih mengimpor naptha, ethylene, propylene, paraxylene dan produk-produk turunannya serta bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah yang sangat besar.

Hal tersebut dapat diatasi dengan integrasi refinery dan petrokimia. Namun saat ini, integrasi antara industri primer (migas) dengan industri petrokimia hulu, antara dan hilir masih belunm sepenuhnya terjadi. Karena itu, akan dilakukan pengembangan industri petrokimia melalui klaster industri berbasis migas kondensat di Gresik dan Tuban (Jawa Timur) serta Bontang (Kalimantan Timur), papar Hidayat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top