Darah segar orang kaya

Untuk meningkatkan kesadaran menyumbang darah, mungkin donor darah perlu menjadi lifestyleorang pergi ke mal, lalu mampir ke tempat donor darah seperti ke kafe Starbucks saja.
News Editor | 12 Desember 2010 00:58 WIB

Untuk meningkatkan kesadaran menyumbang darah, mungkin donor darah perlu menjadi lifestyleorang pergi ke mal, lalu mampir ke tempat donor darah seperti ke kafe Starbucks saja.

Itu adalah pernyataan Jusuf Kalla, saat memberikan sambutan pada aksi donor darah gawean Bisnis Indonesia bersama Senayan City baru-baru ini, sebagai rangkaian peringatan ulang tahun ke-25 harian ini.

Mantan Wakil Presiden yang kini menjadi komandan Palang Merah Indonesia itu seperti bercanda. Namun sesungguhnya sangat serius. Serius, karena dari keluhan yang kerap kita dengar, kerap sulit mendapatkan darah ketika ada pasien yang membutuhkan, sedangkan aktivitas donor darah seperti tak pernah sepi.

Ternyata, dari darah yang didonorkan itu, koleksi PMI baru mencapai sekitar 3 juta kantung setahun, padahal kebutuhan lebih dari 4 juta kantung darah dari seluruh Indonesia.

Gap yang masih cukup besar, karena berarti sekitar seperempat jumlah pasien yang butuh darah pada akhirnya tak terpenuhi oleh pasokan PMI. Begitu besar risiko nyawa yang tak terselamatkan, meskipun terdapat lebih dari 200 juta jiwa pemasok darah di seluruh Indonesia.

Artinya, mobilisasi pendonor menjadi kunci untuk mempersempit gap pasok dan permintaan, persis seperti hukum besi mekanisme pasar. Prinsipnya, setiap nyawa yang butuh darah mestinya bisa diselamatkan, jika pasok darah tersedia secara cepat, di sekitar lokasi pasien yang membutuhkan.

Nah, untuk swasembada darah itu, PMI akan lebih agresif lagi memburu pendonor sampai ke mana-mana.

Dan Pak JK tak kurang akal. Ia memburu darah sampai ke mal-mal. Kalau perlu ke kampus-kampus, mesti ada unit donor darahnya, ujar JK, panggilan akrabnya.

Apakah cara itu manjur? Boleh jadi. Setidaknya, membuat iklim baru dengan pengalaman baru: donor darah sambil window shopping. Paling tidak, ini adalah contoh semangat entrepreneurship dalam mengurus darah yang kini dilakukan PMI.

***

Darah, penting nggak penting, kenyataannya memang amat penting. Jika aliran darah Anda tersumbat, dokter sudah pasti menganjurkan untuk operasi jantung, atau treatment medis yang lainnya agar alirannya lancar kembali. Segala upaya dilakukan supaya aliran darah lancar, mengingat darah ibarat transporter sekaligus infrastruktur.

Tetapi darah juga kerap dianalogikan dengan tatacara kehidupan, bahkan genetika seseorang. Misalnya saja, mereka yang keturunan Ningrat atau priyayi kerap disebut sebagai berdarah biru.

Jika bisnis Anda sedang surut atau jatuh bangkrut, kerap dibilang sedang berdarah-darah. Bagi Anda yang sedang giat-giatnya ekspansi, dan butuh investasi tambahan, tentu tak asing lagi jika kolega menyebutnya butuh suntikan darah segar. Tetapi Anda jangan suka marah-marah supaya tidak dibilang gampang naik darah.

Lhah, ngapain ujug-ujug ngomongin darah? Begitu mungkin Anda bertanya tentang kolom ini. Ya. Sengaja saya mengulas topik darah, karena memang sangat relevan di hari-hari ini.

Di laga olahraga, saya kira nggak ada yang naik darah ketika menonton pertandingan tim nasional Indonesia yang biasanya selalu kalah. Sebab kali ini tim nasional selalu menang dan mampu mengatasi lawan-lawannya yang berlaga dalam putaran Piala Asia.

Kemenangan-kemenangan itu membungkam ledekan terhadap PSSI, yang selalu dikritik sering sekali juru kunci. Anda tentu pernah dengar lelucon, ketika Nurdin Halid yang mengomandani PSSI dianggap calon paling pas untuk menggantikan Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi. Tentu itu cuma ledekan, mengingat bahkan sekarang berhasil dibungkam dengan kemenangan demi kenenangan oleh Bambang Pamungkas dan kawan-kawan.

Tapi tunggu juga yang satu ini. Urusan darah kini juga santer menjadi gawean rakyat Jogja, karena Gubernur Daerah Istimewa yang berdarah biru sedang diuji keimanannya untuk bertahan menjadi pemimpin Daerah Istimewa yang ditetapkan oleh negara atau dipilih langsung oleh rakyatnya.

Jika Anda di Jakarta, mungkin juga sedang sedang dag-dig dug menjelang tutup tahun ini, karena anggaran pemerintah yang mestinya bisa menjadi darah bagi percepatan pertumbuhan ekonomi ternyata tak sepenuhnya bisa dimanfaatkan.

Maunya defisit anggaran yang besar untuk menjadi stimulus ekonomi, ternyata realisasinya malah kelebihan anggaran. Lhah kok? Gimana lagi lha wong kemampuan merealisasikan belanja masih kedodoran.

****

Nah, ini bagian yang serius kalau Anda setuju. Aliran darah ekonomi Indonesia memang sedang menggelegak. Uang yang mengalir di bursa saham, misalnya, seperti tak henti-hentinya, sampai-sampai diperkirakan indeks bursa Indonesia berpeluang menembus level sedikit didekat 4.000 di pengujung tahun ini.

Tak heran jika kini banyak perusahaan melantai ke bursa untuk menggaet darah segar itu. Sampai-sampai, ada IPO yang heboh karena banyak pelibat termasuk politisi dan wartawan yang ingin kecipratan darah segar pula.

Momentum ini berhasil dimanfaatkan banyak perusahaan Indonesia. Banyak konglomerasi yang menjadi semakin kaya karena mampu memanfaatkan kesempatan booming lantai bursa dan ekonomi Indonesia.

Tak hanya BUMN seperti Krakatau Steel dan sebentar lagi BNI, tak kurang 25 perusahaan melantai di bursa untuk mendapatkan darah segar baru guna membiayai ekspansi mereka

Dengan cara itu, para pengusaha kaya di Indonesia kini makin mudah memperoleh darah segar melalui lantai bursa, dan tentu saja dengan demikian mereka menjadi semakin kaya.

Tetapi apapun, rasanya tak akan ada perusahaan Indonesia yang sekaya Grup Bakrie, yang baru-baru ini berhasil backdoor listing di bursa London untuk memperkuat posisi di pasar Eropa.

Meskipun beberapa waktu lalu majalah Forbes mengumumkan daftar nama-nama baru orang paling kaya di Indonesia minus Aburizal Bakrie, saya rasa dominasi Grup Bakrie tetap tak tergeserkan. Bahkan, saya kira, Grup Bakrie merupakan konglomerasi terkaya di dunia saat ini.

Lha kok? Bukannya keluarga Bakrie sudah tidak lagi masuk daftar 10 orang paling kaya di Indonesia?

Itu betul. Tetapi lihat saja, siapa yang bisa mengalahkan kekayaan pemilik Bumi? Mungkin yang bisa mengalahkan cuma seorang perempuan Spanyol, yang baru-baru ini mengklaim sebagai pemilik Matahari!

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup