Ehud Barak bahas kemungkinan pembagian Jerusalem

WASHINGTON: Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, Jumat, mengangkat prospek baru pembagian Jerusalem dengan Palestina sebagai bagian dari suatu kesepakatan perdamaian, usul yang bertolak-belakang dengan pandangan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. "Jerusalem
Yusuf Waluyo Jati
Yusuf Waluyo Jati - Bisnis.com 11 Desember 2010  |  15:30 WIB

WASHINGTON: Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, Jumat, mengangkat prospek baru pembagian Jerusalem dengan Palestina sebagai bagian dari suatu kesepakatan perdamaian, usul yang bertolak-belakang dengan pandangan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. "Jerusalem akan dibahas pada akhirnya dengan .., Jerusalem barat dan (daerah) Yahudi buat kami, permukiman yang dihuni pengungsi Arab buat mereka dan penyelesaian yang berdasarkan kesepakatan bagi tempat-tempat suci," kata Barak kepada hadirin di Washington. Barak, mantan perdana menteri Israel dari Partai Buruh, menyampaikan pendapatnya dalam pidato di hadapan hadirin yang meliputi Perdana Menteri Palestina Salam Fayyad dan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton. Ketika berbicara dengan Barak, kemudian Hillary mendesak pihak Israel dan Palestina agar membuat kompromi mengenai berbagai masalah inti dalam proses perdamaian, termasuk yang menyangkut Jerusalem, yang dikatakan Hillary adalah "yang paling sensitif". Ketika Barak mengeluarkan pernyataan serupa mengenai Jerusalem kepada surat kabar Israel, Haaretz, pada September, ia mendapat kecaman keras dari para pembantu Netanyahu. Bagi Perdana Menteri Yahudi tersebut, Jerusalem adalah "ibu kota yang tak terpisahkan dan abadi". Barak juga mengatakan, "Tak ada pertentangan ... antara penyelesaian dua negara dan keamanan Israel." "Sebaliknya, dua negara buat dua bangsa adalah kondisi penting yang akan memungkinkan Israel, sekarang dan pada masa depan, melanjutkan pengembangan impian Zionis," katanya. Pada November, Hillary berjanji akan menemukan jalan keluar dari proses perdamaian di Timur Tengah, yang macet, ketika ia memulai pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menjelang pembicaraan tersebut, Presiden AS Barack Obama dan Hillary senada dengan kritik global terhadap rencana terakhir Israel untuk membangun 1.300 permukiman di Jerusalem Timur, wilayah yang diinginkan oleh warga Palestina sebagai ibu kota mereka nantinya. (msw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top