Minyak menetes, Bojonegoro menggeliat

BOJONEGORO: Masyarakat Bojonegoro, Jawa Timur, mulai menggeliat. Berbagai kegiatan yang memicu peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dilakukan, terutama dalam dua tahun terakhir sejak menetesnya minyak dari kilang Banyu Urip, Blok Cepu.
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 10 Desember 2010  |  13:12 WIB

BOJONEGORO: Masyarakat Bojonegoro, Jawa Timur, mulai menggeliat. Berbagai kegiatan yang memicu peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dilakukan, terutama dalam dua tahun terakhir sejak menetesnya minyak dari kilang Banyu Urip, Blok Cepu.

Untuk peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Bojonegoro tersebut, PT Mobil Cepu Ltd (MCL), anak perusahaan Exxon Mobil, bekerja sama dengan pemerintah kabupaten melaksanakan berbagai program yang berhubungan dengan permasalahan masyarakat, dengan melibatkan warga setempat.Seperti disebutkan oleh Field External Relation Manager Public and Government Affairs Deddi Afidick PT MCL, program yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat, dimulai dari tingkat terendah hingga tertinggi. "Kami mengerjakan berbagai program. Seperti pembangunan jalan, pelatihan kebidanan, pengadaan air bersih, dan penggemukan sapi," katanya hari ini di kantor perwakilan MCL di Bojonegoro. Dalam melaksanakan program tersebut, katanya, pihaknya dibantu oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berkompeten dalam pendampingan, untuk meningkatkan program yang diajukan oleh MCL. Salah satu program itu adalah peningkatan kualitas bidan desa. Deddi menjelaskan pihaknya menggandeng LSM yang berpusat di Jakarta dalam melakukan pendidikan langsung terhadap bidan yang ada di berbagai desa. Pelatihan tersebut meliputi sterilisasi dan kebersihan persalinan. Dalam bidang pendidilkan di tingkat SD, MCL juga melakukan pengembangan mulai dari pembangunan sekolah, peningkatan pengetahuan guru, dan menyediakan perpustakaan keliling. Untuk pembangunan sekolah, ada empat SD yang dibantu dengan dana sebesar US$70.000 per unit sekolah.Untuk pelatihan sendiri, MCL bekerjasama dengan UNICEF dan Yayasan Dian Desa guna melakukan pelatihan serta pembangunan. Sugiono, Kepala SD Negeri Begadon 400, Kecamatan Ngasem, menjelaskan sekolahnya terbantu dengan program tersebut. Pelatihan yang dilakukan terkait dengan manajemen berbasis sekolah (MBS) dan juga pengajaran. "Kami juga mendapatkan pengetahuan yang cukup," ungkapnya. Menurut dia, saat ini guru menjadi fasilitator, sehingga belajar tidak lagi menyeramkan bagi siswa. Untuk perpustakaan keliling yang diberinama Moli (mobil layanan informasi). Selain memberikan layanan peminjaman buku, Moli juga membawakan pendidikan dengan penyajian film pendidikan, pameran, dan lokakarya untuk manajemen perpustakaan. "Saat ini ada 40 komunitas baca di sekitar wilayah Bojonegoro," kata Arif dari LSM Society Education Centre, sebagai pengelola Moli. Menurut dia, peminat dari Moli bukan hanya pelajar saja, tapi juga guru serta masyarakat meminjam buku. (ts)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top