2010, tahun pelemahan politik

JAKARTA: Tahun 2010 dinilai sebagai tahun pelemahan yang merusak politik Indonesia karena masuknya kepentingan-kepentingan pribadi dalam partai politik. Kepentingan publik dikalahkan kepentingan pribadi atau privat. "Politik sebenarnya sudah mati, yang
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 10 Desember 2010  |  11:22 WIB

JAKARTA: Tahun 2010 dinilai sebagai tahun pelemahan yang merusak politik Indonesia karena masuknya kepentingan-kepentingan pribadi dalam partai politik. Kepentingan publik dikalahkan kepentingan pribadi atau privat. "Politik sebenarnya sudah mati, yang ada kepentingan pribadi. Kepentingan publik telah bergeser menjadi kepentingan privat," tegas pengamat politik Yudi Latief dalam Dialog Kenegaraan "Evaluasi Politik dan Prediksi 2011" di DPD, pekan ini.Dia melihat semakin banyak partai-partai yang dikendalikan oleh orang per orang yang membuat politik mengalami krisis di mana otoritas politik menjadi lemah. "Politik sebagai kepentingan negara menjadi hilang ketika partai didikte oleh orang per orang."Sebagai teknik pencitraan, pengalihan isu mendasar dan mengalahkan lawan, kata Yudi, politik memang mengalami peningkatan, namun politik sebagai etik merosot luar biasa. "Akibatnya, persekutuan yang muncul ialah persekongkolan jahat."Dia mengatakan Setgab Partai Politik Pendukung Pemerintah yang secara substansi awalnya dibentuk untuk mempertemukan titik strategi politik pun malah saling melindungi untuk mempertahankan pos-pos pemerintahan yang dapat dikompromikan antarmereka. "Setgab akhirnya menjadi politik padat modal, saling melindungi kejahatan," ujarnya.Untuk 2011 pun, Yudi pesimistis akan terjadi perbaikan karena adanya saling mengunci di antara lembaga yang terjebak dalam kepentingan politik jangka pendek. "Akan tetap begini karena SBY dengan kekuasaannya akan tetap mempertahankan koalisi secara lebar dan tidak ingin mengambil risiko mengeluarkan beberapa partai dari koalisi."Sementara itu, Wakil Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq menilai terjadi fenomena saling sandera di antara kekuatan di parlemen, misalnya terkait alotnya pembahasan paket UU politik. Menurut dia, Setgab tidak lagi berjalan efektif sebab lebih berfokus menyelesaikan persoalan pinggiran yang tidak substansial ketimbang kasus-kasus besar. "Ketika politik sandera terus tejadi, Setgab tidak bisa diharap banyak. Bagaimana bisa efektif kalau sandera terjadi pada tokoh kunci yang mengendalikan Setgab," katanya tanpa memerinci siapa para tokoh kunci Setgab tersebut. (ts)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top