Politik saling kunci warnai tahun ini

News Editor
News Editor - Bisnis.com 09 Desember 2010  |  13:28 WIB

JAKARTA: Selama tahun 2010 telah terjadi politik 'saling kunci' antara partai politik, presiden dan mahasiswa yang mengakibatkan kegiatan politik menjadi tidak efektif.

Pengamat politik dari Sugeng Sarjadi Syndicate (SSS) Sukardi Rinakit mengatakan akibat posisi saling kunci itu, energi setiap aktor politik khususnya presiden dan parpol terkuras untuk melakukan manuver politik.

Pengamat politik dari Sugeng Sarjadi Syndicate (SSS) Sukardi Rinakit mengatakan akibat posisi saling kunci itu, energi setiap aktor politik khususnya presiden dan parpol terkuras untuk melakukan manuver politik. "Hampir semua parpol, terutama empat partai terbesar, terkunci oleh suatu kasus," katanya pada acara diksui bertema Refleksi politik-ekonomi 2010 di kantor The Akbar Tandjung Institute hari ini. Turut hadir dalam diskusi antara lain Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budisantoso, pengamat politik Indef Didik J Rachbini dan Ketua DPP PDI Perjuangan Arief Budimanta.Lebih lanjut Sukardi mengatakan Partai Demokrat disandera oleh kasus skandal Bank Century, Partai Golkar oleh kasus mafia pajak Gayus Tambunan, PDIP kasus pemilihan Deputi Gubernur Senior Miranda Goeltom dan PKS oleh kasus LC Misbakhun. Dengan adanya kasus-kasus tersebut, selain kehilangan energi, parpol juga menjadi tidak fokus dalam menggerakkan dinamika politik. "Partai-partai koalisi di dalam sekretariat gabungan lebih sibuk memikirkan hal-hal sepele seperti reshuffle kabinet dari pada mendorong kinerja pemerintah secara keseluruhan," ujarnya. Sebaliknya, partai-partai oposisi terutama PDIP tidak bergairah mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah.Dengan kondisi itu, ujar Sukardi, tidak mengherankan jika peran oposisi sepenuhnya diambil alih oleh para aktivis dan mahasiswa sebagai salah satu kekuatan penentu kehidupan politik. Dia menambahkan situasi saling menyandera dan tersandera di antara parpol juga memberi ruang yang luas bagi presiden untuk mengunci parpol anggota koalisi, termasuk dengan penggunaan Setgab.Pada bagian lain dia menilai karakter Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang peragu membuat parpol mitra koalisi memanfaatkan Setgab sebagai arena untuk mengkritisi presiden apabila kepentingan partai terganggu.Akibatnya, urusan strategis menyangkut manajemen pemerintahan dan ketatanegaraan seperti pemilihan ketua KPK, Komisi Yudisial, Kapolri dan Jaksa Agung menjadi berlarut-larut, katanya. (tw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top