Underwriter: IPO Krakatau seperti konser

JAKARTA: Tiga underwriter pelepasan saham perdana (initial public offering/IPO) PT Krakatau Steel Tbk kembali menegaskan proses IPO tersebut dijalankan sesuai aturan dan tidak ada hal aneh di luar aturan yang terjadi di dalamnya.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 07 Desember 2010  |  11:42 WIB

JAKARTA: Tiga underwriter pelepasan saham perdana (initial public offering/IPO) PT Krakatau Steel Tbk kembali menegaskan proses IPO tersebut dijalankan sesuai aturan dan tidak ada hal aneh di luar aturan yang terjadi di dalamnya.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Harry M Supoyo malah menganalogikan proses IPO BUMN baja tersebut sama halnya seperti proses pertunjukan musik. Karena itu, apabila ada yang sejumlah pihak yang merasa tidak puas dalam suatu proses IPO sebenarnya merupakan hal wajar. "Sebenarnya IPO ini seperti konser musik. Ada harga tiket, bagaimana memasarkan, ada distribusi, eksekusi, proses, kemudian produknya. Harga relatif. Bisa disebut mahal atau murah, tergantung dengan pembandingnya. Sepanjang kami stay dengan aturan, kami percaya tidak ada masalah," ujarnya hari ini.Proses IPO ini, lanjutnya, bukanlah proses yang ditentukan oleh satu pihak saja. Mandiri Sekuritas, bersama Danareksa Sekuritas, Bahana Securities dan 49 anggota sindikasi lainnya, serta pihak Krakatau Steel dan Kementerian BUMN melakukan setiap proses sesuai dengan aturan pasar modal. Dia juga menyangkal jika diduga ada keberpihakan terhadap pihak asing. Karena dia mengatakan dari berbagai macam privatisasi, porsi asing dalam IPO BUMN baja tersebut paling kecil yakni hanya 6% dari total saham Krakatau Steel."Komposisi untuk investor asing ini paling kecil dibandingkan dengan privatisasi lainnya, apalagi privatisasi perusahaan swasta. Hanya 35% dari saham yang di-IPO-kan. Dan IPO-nya juga hanya 20%, sehingga kalau dari total saham, asing hanya mendapat sekitar 6%," jelasnya.Adapun untuk menentukan valuasi harga, Harry menjelaskan ada tiga tahapan, pertama, ada valuasi berdasarkan studi ilmu keuangan. Kedua, melalui pre-marketing dan marketing road show. Ketiga, adalah membandingkan dengan industri sejenis baik di dalam maupun luar negeri. "Dari kombinasi itulah akhirnya kami mendapatkan range dan akhirnya disepakati Rp850 per lembar. Angka itu tidak datang dari langit, tetapi dari suatu metode," tegasnya.Direktur Utama Bahana Securities Eko Yuliantoro menambahkan angka tersebut akhirnya diumumkan juga karena telah mendapat kesepakatan dari berbagai pihak. Namun, dia juga menyadari bahwa masalah yang timbul saat ini karena kurangnya sosialisasi dari underwriter kepada masyarakat."Itu [harga] tidak akan di-launch kalau tidak ada kesepakatan dari emiten, undewriter, Kementerian BUMN. Saya juga tidak tahu lagi harus dengan metode IPO apa di luar yang sudah selama ini diterapkan," katanya.Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marciano Herman bahkan mengatakan segala hal yang terjadi dapat dipertanggungjawabkan secara professional. "Untuk menentukan nilai sudah dari berbagai pihak, yakni penilai, konsultan, emiten, dan yang lainnya yang memang expert."Adapun, untuk masalah penjatahan terbagi menjadi dua, yakni yang terpusat (pooling) dan pasti. Dan dari aspek administratif, Marciano mengatakan tidak ada masalah, karena jika ada masalah Bapepam-LK pasti sudah menegur dari awal."Penjatahan ada yang terpusat dan pasti. Memang penjatahan dilakukan sebagai hak penuh dari manajemen penjatahan atau underwriter. Namun aspek disclosure dan pertanggungjawaban sudah terpenuhi. Dari proses administrative juga tidak ada masalah. Kalau ada, pasti Bapepam sudah teriak-teriak." (bsi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top